Aku malu karena salah. Aku takut
karena telah membuat kesalahan. Aku tak mau membuat ini atau itu karena bisa
salah. Pokoknya, aku tak mau mencoba. Demikian serentetan syair pertahanan
diri. Begitulah madah kita karena takut mengambil risiko.
Mengapa harus malu membuat
kesalahan? Mengapa harus takut salah? Bukankah kita bisa belajar dari
kesalahan? Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik?
Untuk itu, mari kita hening sejenak.
Jangan terburu-buru memutuskan. Apalagi menghakimi diri karena salah, janganlah
tega melakukan demikian. Mari kita mendalami kata “salah”!
Aduh, maaf saya salah! Rupanya
seperti itu. Bukan begini kenyataannya. Ini bukan jawabannya. Aku tahu
sekarang. Ternyata aku salah. Inilah beberapa ekspresi saat kita sadar bahwa kita
salah. Bahkan jika kita menilai orang lain, tak jarang dengan kasar kita
mengatakan, “Itu salah. ‘Seharusnya’
begini!”
Lalu, apa reaksi kita saat dinilai
salah? Bersyukur dan berterima kasih atau takut dan malu? Hanya sedikit dari
kita mau bersyukur dan berterima kasih. Umumnya kita merasa malu, bahkan takut.
Apalagi kesalahan itu kita lakukan di hadapan orang yang mempercayai kita. Kita
merasa harga diri kita dirongrong. Wibawa kita jatuh. Akibatnya, kita menutupi
rasa malu dengan membenci usaha atau tindakan kita.
“Seandainya
tadi saya tidak melakukan hal ini, tentu saya tidak mendapat malu seperti ini”
begitulah protes kita pada diri sendiri. Padahal, barangkali usaha kita tadi
sangat serius dan penuh pengorbanan. Namun, hasilnya hanyalah suatu kesalahan.
Rasa malu pun kita tuai.
Di
saat seperti itu, kita mencari ‘kambing hitam’. Kita mulai mempersalahkan orang
lain. Kita membenci orang yang menertawakan kita saat kita salah. Bahkan kita
membenci semua orang yang mendekati kita. Kita ingin mencuci tangan, bahwa
kesalahan ini di luar maksud kita.
Kita
sering bertanya, “Mengapa saya ditertawakan?” Jawabannya pasti, “Karena Anda
salah!” Hanya itu jawabannya. Tak ada jawaban lain yang layak. Mengubah jawaban
ini, berarti keluar dari kebiasaan. Kebiasaannya adalah orang yang bersalah
layak ditertawakan. Karena itu, orang itu HARUS malu (?).
Sampai
di sini, mari kita lebih dalam berefleksi. Cukup satu pertanyaan awal: “Mengapa
kita harus malu saat sadar bahwa kita telah berbuat salah? Sebenarnya, tak ada
jawaban logis dan memuaskan untuk pertanyaan ini. Namun, biarlah kita
mengungkapkan jawaban yang biasa kita lantunkan di sini. Selama ini hanya ada satu
jawabannya: KEBIASAAN masyarakat mengharuskan kita malu jika salah, dan salah
satu caranya adalah dengan menertawakan orang yang bersalah. Saya harus dengan
tegas mengatakan: betapa buruk dan konyol kebiasaan ini!
Menertawakan
orang karena salah? Ini merupakan kekonyolan yang paling konyol. Orang bersalah
(kok) ditertawakan. Mari kita bersama
melihat kekonyolan ini.
Satu
pertanyaan lagi untuk kita: “Kapan kita merasa bersalah?” Jawabannya adalah
saat kita sadar bahwa kita telah melakukan
kesalahan. Pertanyaan lanjutannya, mengapa kita sadar bahwa kita berada di
posisi yang salah? Bukankah kita yakin bahwa kita berada di posisi yang benar?
Bahkan bukankah kita telah mati-matian mempertahankan diri pada posisi kita?
Jawabannya semakin jelas: kita sadar bahwa kita bersalah karena kita telah menemukan kebenaran, tetapi
ternyata kita tidak berada pada posisi benar itu.
Sampai
pada penemuan inilah kita merasa bersalah. Kita baru menjadi yakin bahwa kita
telah melakukan suatu kesalahan karena kita terlebih dahulu meyakini kebenaran
yang baru ditemukan itu. Sekarang kita hanya cukup dengan beralih dari posisi
kita yang salah menuju posisi yang benar. Singkatnya, kesalahan ditemukan
karena kita terlebih dahulu menemukan kebenaran.
Itulah
sebabnya, mengapa saat kita merasa bersalah, kita merasakan suatu pencerahan
baru. Kita memperoleh suatu pemahaman baru, bahkan kehidupan baru. Nah, mengapa
Anda harus malu saat salah? Mengapa takut mencoba karena takut salah?
Rasa
malu dan takut ini sungguh hampa. Tak masuk akal dan konyol. Lebih konyol lagi,
mengapa menertawakan orang yang membuat suatu kesalahan? Bukankah kita yang
tahu/sadar bahwa sesama kita bersalah WAJIB membantu memberitahukan yang benar?
Kita memang sombong dan egois!
Dusun
Pojok-Tiyasan,
27
September 2013
Komentar
Posting Komentar