Langsung ke konten utama

Salah



            Aku malu karena salah. Aku takut karena telah membuat kesalahan. Aku tak mau membuat ini atau itu karena bisa salah. Pokoknya, aku tak mau mencoba. Demikian serentetan syair pertahanan diri. Begitulah madah kita karena takut mengambil risiko.
            Mengapa harus malu membuat kesalahan? Mengapa harus takut salah? Bukankah kita bisa belajar dari kesalahan? Bukankah pengalaman itu adalah guru terbaik?
            Untuk itu, mari kita hening sejenak. Jangan terburu-buru memutuskan. Apalagi menghakimi diri karena salah, janganlah tega melakukan demikian. Mari kita mendalami kata “salah”!
            Aduh, maaf saya salah! Rupanya seperti itu. Bukan begini kenyataannya. Ini bukan jawabannya. Aku tahu sekarang. Ternyata aku salah. Inilah beberapa ekspresi saat kita sadar bahwa kita salah. Bahkan jika kita menilai orang lain, tak jarang dengan kasar kita mengatakan, “Itu salah. ‘Seharusnya’ begini!”
            Lalu, apa reaksi kita saat dinilai salah? Bersyukur dan berterima kasih atau takut dan malu? Hanya sedikit dari kita mau bersyukur dan berterima kasih. Umumnya kita merasa malu, bahkan takut. Apalagi kesalahan itu kita lakukan di hadapan orang yang mempercayai kita. Kita merasa harga diri kita dirongrong. Wibawa kita jatuh. Akibatnya, kita menutupi rasa malu dengan membenci usaha atau tindakan kita.
“Seandainya tadi saya tidak melakukan hal ini, tentu saya tidak mendapat malu seperti ini” begitulah protes kita pada diri sendiri. Padahal, barangkali usaha kita tadi sangat serius dan penuh pengorbanan. Namun, hasilnya hanyalah suatu kesalahan. Rasa malu pun kita tuai.
Di saat seperti itu, kita mencari ‘kambing hitam’. Kita mulai mempersalahkan orang lain. Kita membenci orang yang menertawakan kita saat kita salah. Bahkan kita membenci semua orang yang mendekati kita. Kita ingin mencuci tangan, bahwa kesalahan ini di luar maksud kita.
Kita sering bertanya, “Mengapa saya ditertawakan?” Jawabannya pasti, “Karena Anda salah!” Hanya itu jawabannya. Tak ada jawaban lain yang layak. Mengubah jawaban ini, berarti keluar dari kebiasaan. Kebiasaannya adalah orang yang bersalah layak ditertawakan. Karena itu, orang itu HARUS malu (?).
Sampai di sini, mari kita lebih dalam berefleksi. Cukup satu pertanyaan awal: “Mengapa kita harus malu saat sadar bahwa kita telah berbuat salah? Sebenarnya, tak ada jawaban logis dan memuaskan untuk pertanyaan ini. Namun, biarlah kita mengungkapkan jawaban yang biasa kita lantunkan di sini. Selama ini hanya ada satu jawabannya: KEBIASAAN masyarakat mengharuskan kita malu jika salah, dan salah satu caranya adalah dengan menertawakan orang yang bersalah. Saya harus dengan tegas mengatakan: betapa buruk dan konyol kebiasaan ini!
Menertawakan orang karena salah? Ini merupakan kekonyolan yang paling konyol. Orang bersalah (kok) ditertawakan. Mari kita bersama melihat kekonyolan ini.
Satu pertanyaan lagi untuk kita: “Kapan kita merasa bersalah?” Jawabannya adalah saat kita sadar bahwa kita telah melakukan kesalahan. Pertanyaan lanjutannya, mengapa kita sadar bahwa kita berada di posisi yang salah? Bukankah kita yakin bahwa kita berada di posisi yang benar? Bahkan bukankah kita telah mati-matian mempertahankan diri pada posisi kita? Jawabannya semakin jelas: kita sadar bahwa kita bersalah karena kita telah menemukan kebenaran, tetapi ternyata kita tidak berada pada posisi benar itu.
Sampai pada penemuan inilah kita merasa bersalah. Kita baru menjadi yakin bahwa kita telah melakukan suatu kesalahan karena kita terlebih dahulu meyakini kebenaran yang baru ditemukan itu. Sekarang kita hanya cukup dengan beralih dari posisi kita yang salah menuju posisi yang benar. Singkatnya, kesalahan ditemukan karena kita terlebih dahulu menemukan kebenaran.
Itulah sebabnya, mengapa saat kita merasa bersalah, kita merasakan suatu pencerahan baru. Kita memperoleh suatu pemahaman baru, bahkan kehidupan baru. Nah, mengapa Anda harus malu saat salah? Mengapa takut mencoba karena takut salah?
Rasa malu dan takut ini sungguh hampa. Tak masuk akal dan konyol. Lebih konyol lagi, mengapa menertawakan orang yang membuat suatu kesalahan? Bukankah kita yang tahu/sadar bahwa sesama kita bersalah WAJIB membantu memberitahukan yang benar? Kita memang sombong dan egois!

Dusun Pojok-Tiyasan,
27 September 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...