Langsung ke konten utama

Rasa Kebangsaan yang Benar



Rasa kebangsaan merupakan unsur terpenting dalam dinamika kehidupan suatu bangsa. Mustahil jika sebuah bangsa tetap eksis tanpa rasa kebangsaan dalam diri setiap individu dalam bangsa itu. Jika tidak ada rasa kebangsaan dalam diri  setiap individu yang membentuk suatu bangsa tertentu, individu-individu tersebut tidak lebih daripada suatu kerumunan di pasar yang memperjuangkan tujuan masing-masing.
            Di era milenium ketiga yang semakin pesat dengan perkembangan dalam berbagai dimensi kehidupan, tafsiran makna rasa kebangsaan menjadi bervariasi. Umumnya, fenomena dewasa ini menampilkan dua kelompok tafsiran. Kelompok pertama menafsirkan rasa kebangsaan sebagai kebebasan mutlak dari berbagai tekanan, sedangkan kelompok kedua menafsirkannya sebagai ketaatan terhadap segala peraturan dan kebijakan.
Kelompok pertama adalah mereka yang tidak menghendaki eksistensi bangsanya terpinggirkan atau tersisihkan, apalagi dibenamkan oleh bangsa-bangsa lain. Mereka sangat menekankan kebebasan bangsanya dalam mengatur diri sendiri. Mereka akan menentang bahkan memberontak bila bangsanya diremehkan, apalagi disingkirkan. Namun, segala cara sering dihalalkan demi mencapai kebebasan yang diinginkan. Mereka membangun berbagai gerakan, mulai dari diskusi-diskusi formal dan nonformal, hasut-menghasut, bahkan sampai aksi-aksi anarkis.
Fakta di Indonesia membuktikan, gerakan-gerakan yang memutlakkan kebebasan ini hanya akan berujung pada perpecahan dan keruntuhan bangsa. Rasa cinta akan bangsa yang seharusnya diperjuangkan, akhirnya harus berubah menjadi rasa benci. Akibatnya, bangsa semakin bobrok. Nasionalisme pun hanya tinggal sebagai suatu harapan hampa.
Franz Magnis-Suseno menegaskan, kebebasan adalah mahkota martabat kita sebagai manusia. Namun, tak ada kebebasan mutlak. Kebebasan itu selalu mengandung suatu pertanggungjawaban. Itu berarti kebebasan selalu menjunjung martabat manusia sebagai individu tertentu sekaligus sebagai suatu persekutuan hidup bersama.
            Kelompok kedua adalah mereka yang menekankan harmonisasi bangsa. Kelompok ini membiarkan bangsanya berjalan apa adanya agar tidak terjadi khaos. Kelompok ini berpandangan, bangsa akan hancur atau kacau-balau jika terjadi benturan antara pemimpin bangsa dan anggota-anggotanya. Menurut mereka, tidak baik jika seseorang melontarkan protes terhadap pemimpin bangsanya.  Oleh karena itu, agar bangsa tetap harmonis, individu-individu pembentuk bangsa tersebut harus mentaati segala aturan dan kebijakan yang telah ada. Mereka berpandangan, lebih baik taat pada penguasa daripada bertindak secara anarkis.
Namun, fakta membuktikan, ketaatan mutlak pada penguasa tidak cukup menjadi bukti akan rasa kebangsaan suatu bangsa. Selain itu, ketaatan buta pada penguasa pun tidak serta-merta mengokohkan eksistensi suatu bangsa. Sebaliknya, ketaatan mutlak sering membenamkan eksistensi setiap individu. Konsekuensi luasnya, bangsa pun ikut terbenam. Akhirnya, rasa kebangsaan kita menjadi hampa.
            Jadi, kita harus menyeimbangkan kedua ekstrem ini. Jika kita hanya menekankan salah satu pandangan, rasa kebangsaan kita hanya akan berujung pada kehancuran dan keruntuhan bangsa. Sebaliknya, jika kita menyeimbangkan kebebasan setiap individu dan tanggung jawab terhadap hidup bersama dalam suatu bangsa, rasa kebangsaan kita menjadi utuh, benar, baik, dan indah selaras zaman sehingga dapat mengokohkan keberadaan suatu bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...