Langsung ke konten utama

Membongkar 'Mindset' Uang Suap



‘Suap itu biasa kok!’ Ungkapan ini tak asing lagi di kuping kita. Bahkan Swarsono, Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mengumandangkan ungkapan ini. Masyarakat Indonesia sekarang mempunyai mindset: suap itu biasa saja, katanya.
Dalam Seminar Nasional di Universitas Sebelas Maret Solo, sabtu (9/11) lalu, Swarsono membandingkan praktik suap di Cina dan Amerika dengan praktik suap di Indonesia. Menurutnya, dalam mindset bangsa Cina dan Amerika, praktik suap dipandang sebagai suatu kejahatan. Karena itu, kedua bangsa itu berusaha untuk menghindarinya.
Sementara dalam mindset masyarakat Indonesia, kata Swarsono, praktik suap sudah menjadi hal yang biasa saja (Kedaulatan Rakyat, 11/11). Masyarakat Indonesia pada umumnya berpikir, para pejabat hanya bisa dilunakkan dengan uang suap. Karena itu, jika suatu urusan terhambat, masyarakat secara gamblang memahami. Uang suap harus diberikan kepada pihak yang menghambat urusan itu, sehingga urusan menjadi lancar.
Kini semakin marak praktik suap di Indonesia. Kalau pada zaman dahulu suap terjadi secara sembunyi-sembunyi, kini terjadi secara terang-terangan. Bahkan suap sering dibalut dengan aturan tertentu, atau diberi judul “uang capai” atau “uang duduk”.
Aneh kedengarannya. Namun, itulah kenyataannya. Uang diberikan atau diterima bukan lagi sebagai penghargaan atas suatu pekerjaan yang baik dan profesional. Sebaliknya, uang dihamburkan bagi ‘mereka yang capai’ atau ‘mereka yang hanya duduk saja’.
Suatu pekerjaan berat memang mengakibatkan rasa capai. Namun, bukan karena rasa capai seseorang diberi uang. Seharusnya, seseorang hanya boleh diberi uang karena telah melakukan suatu pekerjaan atau tindakan yang baik dengan tepat, benar, etis, dan profesional. Dalam hal ini, uang menjadi sarana untuk mengungkapkan suatu rasa penghargaan. Jadi, uang itu bukan sebatas makna nominal, melainkan juga bermakna moral.

Uang sebagai Sarana Moral
Uang memang dalam dirinya sendiri bernilai nominal. Namun, nominalitas uang tidak berarti apa-apa jika tak berkaitan dengan manusia. Dengan kata lain, uang baru menjadi bermutu ketika digunakan oleh manusia.
Uang yang tersimpan rapi di bank atau di tempat penyimpanan mana pun hanya memiliki makna nominal. Dalam arti tertentu, uang itu hanya tinggal diam saja, tak berarti bagi manusia, dan hanya tunggu dimakan ngengat. Sebaliknya, uang itu akan bermakna moral ketika digunakan manusia. Dalam pengertian ini, uang merupakan salah satu sarana moral. Karena itu, pemberian atau peneriamaan uang selalu merupakan suatu tindakan moral.
Melakukan suatu pekerjaan yang baik secara tepat, benar, etis, dan profesional merupakan suatu tindakan moral. Karena itu, orang yang melakukannya patut mendapat apresiasi moral. Uang yang diberikan kepada orang yang demikian pun dipandang sebagai suatu penghargaan moral, sebagai bentuk dukungan atas tindakan baiknya.
Sebaliknya, mereka yang hanya duduk dan berpangku tangan saja tidak berhak dan tidak layak diberi uang, karena mereka tidak melakukan suatu tindakan bermoral. Justru sebaliknya, mereka sedang merancang suatu kebejatan dan kehancuran serta keruntuhan bangsa dan negara.
Jika semua masyarakat Indonesia menyadari hal ini, uang suap yang diberi judul “uang capai” atau “uang duduk” tidak pernah lagi terlintas dalam mindset. Praktik suap pun akan dipandang sebagai suatu kejahatan yang harus dihindari. Akhirnya, masyarakat Indonesia menemukan serta menghidupi kembali identitasnya sebagai bangsa dan negara yang beradab, serta ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...