Langsung ke konten utama

Misi Mengenal




“Tak kenal, maka tak sayang. Dikenal, maka disayang.” Ungkapan klasik ini tak asing lagi di kuping kita. Sejak zaman nenek moyang kita, ungkapan ini sudah mulai tumbuh. Zaman demi zaman merambatkan akarnya. Zaman kita menerimanya telah remaja. Hanya dengan suatu inisiasi singkat, kita akan mendewasakannya.
Zaman kita telah memulai pendewasaan ungkapan ini. Contoh jelas tampak dalam sosok Paus Frasiskus. Ia mau bergaul dengan siapa saja. Karena itu, ia mengenal setiap orang yang dijumpainya secara lebih dalam, sehingga ia mengetahui apa yang mereka butuhkan. Bukan solusi yang pertama-tama dipaksakan untuk diterima orang-orang yang dijumpainya, melainkan kerendahan hati untuk siap mengenal mereka.

Misi Mengenal
Kiranya jelas, misi kita adalah “misi mengenal”. Banyak contoh biblis bisa kita temukan. Sejak zaman penciptaan, Allah tidak hanya menciptakan, tetapi juga mengenal (‘melihat’, Kej 1), bahwa baiklah ciptaan-Nya. Ketika Ia hendak membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir, terlebih dahulu hati-Nya tergerak karena mengenal penderitaan mereka (Kel 2-3). Bukan hanya dalam Perjanjian Lama, sampai Perjanjian Baru pun Allah masih menggunakan gaya misi yang sama, “misi mengenal”. Allah mengenal manusia dan memperhatikan kerendahannya (Luk 1:48). Itulah sebabnya Ia relakan Putra Tunggal-Nya turun ke dunia (Yoh 3:16). Lalu Putra-Nya pun melakukan misi-Nya dengan gaya yang sama, “misi mengenal” (Yoh 10). Ia terlebih dahulu mengenal manusia dengan nama masing-masing, dan Ia pun dikenal karena suara kasih-Nya yang menghangatkan (Yoh 20:16).
Mengenal itu gampang, tetapi mengenal secara mendalam itu sulit. Namun, itulah misi. Misi harus dimulai, dihidupi, dan diakhiri dengan mengenal. Karena, bermisi berarti bertemu dan berkenalan dengan manusia. Manusia itu dinamis; kemarin lain, hari ini lain, esok dan lusa pun lain. Karena itu, bermisi berarti mengenal tiada henti.
Tahun 1492, discovery dimulai. Suatu babak baru pun dimulai. Eropa merasa bahwa kejayaannya memuncak. Gereja Katolik pun ikut-ikutan berjaya. Zaman itu, Gereja tidak ingin mengenal, tetapi hanya ingin dikenal dan terkenal. Motifnya jelas: ekspansi kekuasaan politis-gerejani, penanaman kultur Eropa, dan usaha komersial kolonialis dipuja-puja. Misi yang seharusnya merupakan pewartaan Injil, dengan menampakkan Cinta Kasih, gloria Dei, dan mewujudkan ketaatan pada perintah dan kehendak Allah, diselewengkan dan dibenamkan dalam lautan keegoisan aliansi Gereja dan politik.
Senada dengan Tzvetan Todorov dan Douglas E. Stannard, Jürgen Moltmann mengungkapkan bahwa agama Kristen di Eropa saat itu memenangkan jiwa-jiwa bukan karena Injil, melainkan karena kekuatan kekaisaran-Kristen. Pertanyaan para kolonialis kepada setiap orang yang dijumpai di tanah dan budaya yang dijarah adalah bukan “Apakah Anda percaya atau tidak?”, melainkan “Apakah Anda mau dibaptis atau mau mati?” –sambil menggenggam senjata di tangan kiri. Sejak saat itu, Gereja tidak lagi tampil sebagai sarana untuk “memperkenalkan” Allah. Sebaliknya, Gereja lebih tenar tampil dengan nama baptisan barunya, 3G (Gospel, Glory, dan Gold) dan 3M (Missionary, Military, dan Merchant). Akibatnya Gereja dicurigai dan tidak dipercaya.
Kiranya menjadi jelas bahwa misi tidak bisa terjadi dengan dan dalam paksaan. Romo Franz Magnis-Suseno,SJ melukiskan buruknya paksaan dengan sangat baik. Menurutnya, setiap pemaksaan kita rasakan sebagai sesuatu yang tidak hanya buruk dan menyakitkan, tetapi juga menghina. Memaksakan sesuatu pada orang lain berarti mengabaikan martabatnya sebagai manusia yang sanggup untuk mengambil sikapnya sendiri. Itulah sebabnya kita merasa paling terhina kalau sesuatu dipaksakan kepada kita dengan ancaman atau bujukan, apalagi untuk mencintai seseoarang atau mempercayai sesuatu. Sampai di sini sangat beralasan bagi kita untuk sepakat dengan Romo Magnis-Suseno, SJ bahwa paksaan dalam hal agama sangatlah tidak masuk akal.
Jadi, misi kita haruslah “misi mengenal”, bukan memaksa. Paksaan biasanya berasal dari arogansi untuk tidak mengenal orang lain. Yang menjadi fokus tindakan adalah bagi ego-ku. Aku menjadi pusat bagi dunia, dan dunia hanya mendapat artinya dariku. Tanpa aku, dunia pun tiada. Demikian ungkapan keangkuhan orang sombong. Sebaliknya, seorang misionaris (selanjutnya dibaca: ‘orang yang bermisi’), haruslah orang yang rendah hati dan rela bahkan siap berkorban untuk ‘mengenal’. Perspektif ini selalu berasumsi bahwa semua orang terlahir baik, dan dalam setiap budaya selalu terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijunjung. Karena itu, bermisi berarti siap sedia untuk menggali kembali kebaikan dan nilai-nilai kemanusian dalam diri sesama dan budayanya (bdk. Dekret Ad Gentes 22, Konsili Vatikan II).
Tidak cukup jika bermisi hanya dengan gaya klasik, menanamkan proposisi-proposisi yang benar secara paksa yang diturunkan dari suatu refleksi spekulatif-abstrak. Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes (GS) 44, Konsili Vatikan II, melukiskan hal ini dengan sangat baik. “Seperti penting bagi dunia, untuk mengakui Gereja sebagai kenyataan sosial dan sebagai ragi sejarahnya, demikian pula Gereja sendiri mengetahui betapa banyak telah ia terima dari sejarah dan perkembangan umat manusia”. Karena itu, misionaris yang bermisi dengan gaya ‘sok tahu segala hal’, sehingga memaksakan segala hal kepada orang yang dilayaninya, tidak lagi selaras zaman. Gaya bermisi ini telah renta dan usang. Tinggal selangkah saja, gaya bermisi ini akan (harus)  menemui ajalnya.
Gaya bermisi yang baru haruslah ‘misi mengenal’. Hanya dengan mengenal, kita tidak lagi memaksa, tetapi mencintai –dan cinta itu lahir dari dan akan berbuah kebebasan untuk mencintai tiada akhir. Bahkan kalau pun tetes darah penghabisan menjadi taruhan, misi tak pernah menjenuhkan dan mengecewakan. Justru sebaliknya, pengorbanan menjadi tuntutan bermisi. Dia yang tergantung di salib tanpa busana menjadi model pengorbanan dalam bermisi.

Mengenal untuk Siap Berkorban
Menjadi seorang misionaris juga berarti menjadi figur publik. Model hidup yang baik sangat dituntut. Perhatian pada keselamatan dan kesejahteraan semua menjadi prioritas. Gerbang pengorbanan diri selalu terbuka kapan pun. Bahkan kesediaan untuk berkorban sangat dituntut. Hal ini oleh Lawrence Kohlberg dipandang berada pada tingkat pasca-Adat, tingkat tertinggi dalam Perkembangan Kesadaran Moral. Tingkat ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap kelima (orientasi pada kontrak sosial dan manfaat sosial)  dan keenam (orientasi pada prinsip etika universal).
Menurut Kohlberg, pada tahap kelima, ‘seseorang sudah mampu menjunjung nilai-nilai sosial, menjamin hak-hak dasariah, dan menepati perjanjian…’. Selanjutnya pada tahap tertinggi, tahap keenam, ‘seseorang sudah bisa menegakkan prinsip keadilan, dalam arti hormat pada martabat manusia dan memperjuangkan kesamaan hak semua orang. Yang menjadi dasar tindakan ialah bertindak adil sebagai pribadi rasional dan menghormati orang lain sebagai tujuan, bukan sebagai sarana’. Orang yang telah mencapai tingkat ini akan memandang pengorbanan diri sebagai nilai moral tertinggi. Ia rela dan selalu siap sedia memberikan diri bagi orang lain. Seorang misionaris dituntut mempunyai kesadaran moral demikian.
Senada dengan pemikiran Kohlberg ini, Paus Fransiskus mengejutkan para uskup di Rio de Jenario, Brasil, dengan suatu imbauan yang sangat menarik. Dalam Misa Hari Kaum Muda se-Dunia (World Youth Day, WYD), tanggal 28 Juli 2013 lalu, kepada para uskup di sana ia mengatakan, “Pergilah ke tempat-tempat terjauh di antara kelompok masyarakat terpinggirkan untuk menemukan kembali imanmu.” Seorang misionaris dituntut untuk meninggalkan kenyamanannya. Takhtanya harus dibongkar dan pergi memasang kemah di antara jemaat dan semua orang. Dengan kerelaan dan pengorbanan demikan, ia mampu mengenal mereka yang dilayani secara lebih dalam, sehingga ia pun mampu menyelamatkan dan menyejahterakan mereka. Sebaliknya, jika takhtanya semakin dikokohkan dengan arogansi, yang ada hanyalah pemaksaan ide seorang diktator, bukan memperkenalkan keselamatan.
Jadi, bermisi lebih berarti meninggalkan takhta, dan turun untuk mengenal mereka yang dilayani. Tidak cukup dan sia-sia jika kita menawarkan solusi-solusi yang tampak brilian, tetapi tidak menjawabi persoalan mereka yang dilayani. Lebih daripada itu, kita harus hidup bersama mereka dan mengenal mereka secara mendalam, sehingga mereka yang dilayani merasa didengarkan, diselamatkan, dan disejahterakan dengan penuh cinta yang membebaskan. Kita pun semakin sayang pada mereka, karena kita mengenal suka duka mereka secara mendalam. Akhirnya, kita semakin bersedia untuk berkorban demi mereka. Sang Sabda telah menjadi model bagi kita, turun dari kemuliaan dan berkemah-menghambakan diri di antara kita, karena dan untuk mengenal kita. Kini saatnya bagi kita untuk mewarisi, mematangkan, dan mendewasakan “misi mengenal”.

Referensi:
1.      Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, terj. Dr. J. Riberu, Dokpen Mawi, Jakarta, 1983.
2. Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar, Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius, Yogyakarta, 1987.
3.      Haryatmoko, Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2011.
4.      Jürgen Moltmann, Theology in the Project of the Modern World, dalam Miroslav Volf (ed.) A Passion for God’s Reign, Theology, Christian Learning, and the Christian Self, William B. Eerdmans Publishing Company, U.K., 1998,  hlm. 1-21.
5.      Stephen B. Bevans, Theologi dalam Perspektif Global, Sebuah Pengantar, terj. Yosef Maria Florisan, Ledalero, Maumere, 2010.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...