Candi Borobudur
Mengukir prestasi gemilang itu mudah, tetapi mempertahankan prestasi itu sangatlah sulit. Untuk berprestasi, barangkali kita hanya butuh waktu seminggu; itu sudah cukup. Namun untuk mempertahankan prestasi, kita harus membutuhkan waktu seumur hidup.
Untuk menikah, barangkali kita hanya butuh waktu seminggu; itu sudah cukup. Bahkan orang bisa saja memilih untuk langsung menikah, tanpa harus terlebih dahulu melalui proses perkenalan secara mendalam, berpacaran, dan bertunangan. Namun untuk mempertahankan sucinya pernikahan, kita butuh waktu seumur hidup.
Sama juga dengan hidup membiara atau klerus. Untuk menjadi seorang biarawan/wati (anggota tetap), barangkali kita hanya butuh waktu 6 tahun. Atau untuk menjadi seorang Romo pun barangkali kita hanya membutuhkan waktu 9-10 tahun. Hanya itu, ya itu saja sudah cukup. Namun untuk bertahan, kita membutuhkan waktu seumur hidup.
Atau bisa saja ada yang memilih untuk selalu hidup sendiri. Memilih untuk hidup sendiri itu mudah, tetapi mempertahankan kesucian dalam hidup sendiri itu butuh waktu seumur hidup.
Senada dengan Paus Fransiskus, saya mau mengatakan demikian. Hidup kita memang selalu dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Termasuk di dalamnya, pilihan status hidup. Apapun pilihan hidup kita, yang terpenting adalah setia. Kesetiaan itu tampaknya sulit untuk dipikirkan. Namun kalau kita selalu sadari dan jalani kesetiaan itu setiap detik, rasanya hidup ini sangat enteng dan penuh dengan sukacita.
Yogyakarta, 6 Desember 2018
Todi Manek, CMF
Todi Manek, CMF

Komentar
Posting Komentar