Langsung ke konten utama

MENGAPA GEREJA KATOLIK MELARANG ABORSI?

membela kehidupan berawal dari komitmen untuk mencintai
Lokasi: Raihenek-Mutin Timor Leste

[tulisan ini agak panjang, tetapi saya yakin rasa ingin tahu dan cintamu akan Gereja Katolik akan mendorongmu untuk membacanya sampai selesai]

Mari kita melihat sepintas, mengapa aborsi dilarang dalam Gereja Katolik?

Alasannya sangat sederhana, tetapi mendasar. Semua agama sepakat dengan ajaran ini: kita tidak boleh atau dilarang membunuh karena Allah sendirilah pemilik kehidupan. Oleh karena itu, tak seorang pun boleh mengambil kehidupan dari manusia lain. Karena tindakan mengambil kehidupan itu hanyalah milik Allah. Mengapa hanya milik Allah? Karena hidup itu milik Allah. Hidup kita itu Allah yang berikan, konsekuensinya hanya Dia pulalah yang berhak mengambilnya kembali.

Dalam Gereja Katolik, membunuh termasuk salah satu dosa berat. Larangan ini juga terdapat dalam 10 Perintah Allah: “Jangan membunuh!” (lih. Kel 20:13; Kej 9:6; Mat 5:21). Perlu diingat bahwa hukum/perintah tersebut tidak hanya berbicara mengenai pembunuhan terhadap orang dewasa. Membunuh anak-anak pun dilarang. Apalagi membunuh janin dalam kandungan, tindakan itu bukan hanya termasuk dosa berat, melainkan juga tergolong dalam perbuatan keji dan bengis. Mengapa? Karena aborsi itu membunuh janin (manusia) yang tidak bersalah dan tidak berdaya. Mereka tidak mampu membela diri, bahkan untuk menangis saja mereka tidak mampu. Itulah sebabnya hukuman untuk orang yang melakukan aborsi sangat berat dalam Gereja Katolik.

Dalam Kitab Hukum Kanonik (kitab hukumnya orang Katolik) Kanon 1398, dikatakan: “Yang melakukan aborsi dan berhasil, terkena ekskomunikasi latae sententiae”. Apa maksudnya ekskomunikasi latae sententiae? Itu berarti orang yang melakukan aborsi akan secara langsung/serta-merta/otomatis dikeluarkan dari ikatan persekutuan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Dengan kata lain, begitu seseorang melakukan aborsi, pada saat itu juga dia akan langsung dikeluarkan dari Gereja Katolik, meski tak seorang pun tahu bahwa dia telah aborsi.

Nah, dengan demikian, siapa yang mengeluarkan orang yang melakukan aborsi itu dari Gereja Katolik? Bukan siapa-siapa! Tindakan orang yang melakukan aborsi itu sendirilah yang mengeluarkan dia dari Gereja Katolik. Karena itu, orang yang melakukan aborsi mendapat hukuman “tidak boleh dan dilarang” terlibat dalam berbagai kegiatan dalam Gereja Katolik, termasuk menyambut Sakramen-sakramen. Siapa yang menghukum dia seperti itu? Sekali lagi, tindakannya melakukan aborsi itulah yang menghukum dia, bukan siapa-siapa yang menghukumnya.

Dalam Kanon 1331 – §1 dikatakan: “Orang yang terkena ekskomunikasi, dilarang:
1° ambil bagian apapun sebagai pelayan dalam perayaan Kurban Ekaristi atau upacara-upacara ibadat lain manapun;
2° merayakan sakramen-sakramen atau sakramentali dan menyambut sakramen-sakramen;
3° menunaikan jabatan-jabatan atau pelayanan-pelayanan atau tugas-tugas gerejawi manapun, atau juga melakukan tindakan kepemimpinan.”

Dari kanon-kanon tersebut, tampak jelas bahwa orang yang sudah melakukan aborsi, dilarang terlibat dalam semua kegiatan Gereja Katolik, dilarang terima Sakramen-sakramen (misalnya, dilarang terima Komuni), dan dilarang menjabat jabatan pelayanan tertentu di gereja (misalnya, sebagai ketua Lingkungan). Kalau orang yang sudah aborsi melanggar larangan ini, orang itu harus diberi hukuman yang lebih berat lagi.

Maaf, saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Namun yang ingin saya sampaikan hanya satu hal, yaitu supaya kita tahu persis betapa Gereja Katolik sungguh mencintai dan membela serta memperjuangkan hidup manusia.

Kesimpulan: dalam konteks ini, kita dapat mengatakan bahwa supaya kita tetap berada di dalam ikatan Gereja Katolik yang berciri Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, maka dilarang atau stop aborsi!


Yogyakarta, 18 Desember 2018
Todi Manek, CMF

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...