Langsung ke konten utama

Pemberian Nama Menyingkapkan Misteri Penderitaan



Kalau Anda selalu bertanya, "Mengapa saya selalu menderita, padahal saya sudah hidup baik dan sudah berjuang dan berkorban banyak hal?", tulisan berikut ini barangkali bisa membantu Anda.
Tulisan saya sebelumnya berjudul "Apalah Arti Sebuah Nama?" telah memberi signal bahwa dengan pemberian nama pada seseorang atau sesuatu, kita mampu menyingkap misteri dari sesuatu atau seseorang yang kita beri nama tersebut. Tulisan berikut ini mau menampilkan bagaimana pemberian nama pada realitas penderitaan akan membuat kita sedikit memahami misteri penderitaan kita.
Ketidakpuasan manusia berhadapan dengan realitas tanpa nama mendesak kita mengubah pertanyaan “Apalah arti sebuah nama?” menjadi “Mengapa harus ada sebuah nama?”. Martin Hedegger mengatakan bahwa memberi nama (konsep) kepada realitas berarti mencerabut “ada” (being)[1]. Menurut Heidegger, “ada” lebih luas dari nama (konsep) yang kita berikan pada suatu realitas. Nama hanyalah sesuatu yang terkatakan dari realitas, tetapi nama bukanlah realitas itu sendiri. Itu berarti nama dari sebuah realitas masih melupakan (Yun. lethe – Ing. forgetting, forgetfulness) atau menyembunyikan (Yun. Lethein – Ing. to escape, be unseen, unnoticed) bagian dari “ada” yang dicerabut. Baik yang sudah tersingkap maupun yang masih tersembunyi atau terlupakan, keduanya merupakan satu realitas. Dengan kata lain, suatu realitas selalu ada yang tampak atau terkatakan, tetapi sekaligus ada yang masih tersembunyi atau belum terkatakan. Yang sudah terkatakan itu kita sebut sebagai konsep, yakni nama yang kita berikan kepada realitas; sedangkan yang belum terkatakan justru masih sebagai ‘misteri yang menunggu’ untuk dikatakan/disingkapkan. Itulah sebabnya Heidegger tidak menyebut realitas sebagai “ada” (being), tetapi sebagai Dasein, yakni yang sudah tersingkap (Yun. aletheia – Ing. unhiddenness, truth) sekaligus yang masih tersembunyi (Yun. Lethein – Ing. concealment or hiddenness, untruth).
Pandangan Heidegger ini membantu kita semakin memahami alasan kita (manusia) cenderung untuk memberi nama pada realitas penderitaan. Pemberian nama memang tak memberi kita jawaban sempurna bagi kita, tetapi sangat membantu kita untuk menyingkap misteri penderitaan. Paus Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik Salvifici Doloris no. 1[2], mengungkapkan bagaimana rasul Paulus memberi nama pada realitas penderitaan yang panjang yang dialami selama hidupnya. Pemberian nama tersebut bukan sekali jadi dan dalam kurun waktu yang singkat. Setelah bergulat dengan penderitaan yang senantiasa dialami dalam pewartaan Injil Kristus, Paulus kemudian menemukan nama yang tepat untuk penderitaannya. Hal ini diungkapkan dengan bangga dalam suratnya kepada jemaat di Kolose. Paulus menulis bahwa penderitaannya merupakan penggenapan dalam dagingnya apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Itulah alasanya dia mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu” (Kol 1:24). Sukacita Paulus datang dari penyingkapan makna penderitaannya. Dalam penyingkapannya, dia menemukan bahwa nama yang tepat untuk penderitaan yang senantiasa dialaminya adalah penderitaan untuk menggenapi penderitaan Kristus bagi jemaat-Nya yang masih kurang. Dengan demikian, penderitaannya memiliki makna keselamatan, sehingga ia bersuka cita.
Itu adalah nama yang diberikan rasul Paulus pada penderitaannya. Pepatah mengajarkan, “Lain orang, lain cara, lain juga cerita dan makna hidupnya”. Itu berarti setiap orang harus berusaha untuk memberi makna bagi penderitaan yang sedang dialaminya. Kita juga mengingat agar “jangan membawa kepada kesimpulan seolah semua penderitaan dan semua rasa sakit harus diterima saja, dan tidak usah ada usaha untuk meringankannya”[3]. Setiap makna dari penderitaan kita hanya bisa ditemukan kalau kita mencoba menyingkapkan maknanya atau memberi nama atas penderitaan tersebut bagi kita masing-masing. Hanya dengan demikian, kita bisa memahami dan perlahan-lahan menerima realitas penderitaan kita.
Akhir bulan Juni 2015 saya menelepon om saya di Kalimantan Barat untuk berlibur ke rumahnya pada bulan berikutnya (Juli 2015). Dia keberatan menerima kehadiran saya. Alasan yang disampaikannya adalah oleh karena anaknya yang pertama akan menikah, sehingga dia tidak mau liburan saya terganggu karena kesibukannya. Tentu jawaban ini sangat mengecewakan saya, karena sudah lama saya tidak berjumpa dengan om saya. Terakhir kali saya berjumpa dengan om saya ketika saya (mungkin) baru berumur 10 tahun sehingga kini wajahnya pun tidak bisa saya bayangkan lagi. Saya sudah melupakan rupa om saya. Bisa dibayangkan betapa saya sangat menginginkan sebuah pertemuan di antara kami. Namun ternyata, kerinduan mendalam saya untuk bertemu ditolaknya. Namun, dia berjanji untuk menemani liburan saya berikutnya. Saya sangat mengharapkan momen itu tiba. Namun sayang sekali, tidak sampai sebulan setelah itu, om saya meninggal dunia. Saat itu saya sedang berlibur di kampung halaman saya, Timor Barat. Ketika saya diberitahukan oleh ibu saya bahwa om saya telah meninggal dunia, saya sangat sedih dan marah. Namun, rasa jengkel saya mendominasi rasa sedih. Saya protes kepada Tuhan dan tidak mau menerima kenyataan itu. Saya pun marah pada om saya yang telah menolak tawaran saya untuk berlibur ke rumahnya dan berjumpa di sana. Namun, saya pun marah pada diri saya sendiri, karena saya sampai berpikir demikian.  Karena itu, saya marah pada kemarahan saya sendiri.
Saat itu saya tidak bisa dihibur. Saya berusaha untuk tampil ceria, tetapi roman saya tetap sedih dan marah. Saya sakit hati, karena Tuhan berlaku demikian. Seandainya dekat, barangkali jasad om saya masih bisa kuamati dan kukenal kembali rupanya. Akan tetapi, jarak ini (Timor dan Kalimantan) terlalu jauh. “Tuhan sungguh keterlaluan,” pikirku saat itu. Karena itu, saya tidak sanggup menerima kenyataan perih itu. Saya pun tidak menemukan cara untuk keluar dari kesedihan dan kemarahan saya yang mendalam itu. Karena itu, saya terdiam.
Dalam diamku, saya menemukan nama untuk deritaku. Spontan saya mengingat kata-kata dalam Kitab Suci yang bergema dan menggoncang seluruh tubuhku saat itu. Kata-kata tersebut merupakan kutipan dari nubuat nabi Yeremia sebagai kesimpulan dari kisah pembunuhan para martir cilik oleh Herodes di Betlehem: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Mat 2:18). Eureka! (Saya ketemu!). Nama untuk penderitaan saya adalah saya tidak mau dihibur, sebab om saya tidak ada lagi. Aneh tapi nyata! Justru temuan saya ini secara drastis menghilangkan kesedihan dan kemarahan saya. Saya semakin yakin bahwa inilah misteri dari penderitaan. Saya telah menyingkapkan misteri penderitaan saya melalui pemberian sebuah nama: “Saya tidak mau dihibur, sebab om saya tidak ada lagi!” Dengan temuan makna penderitaan ini, saya justru menerima kenyataan penderitaan tersebut. Sebaliknya, ketika saya berusaha untuk menolak realitas penderitaan tersebut, saya justru tersiksa, karena saya tidak bisa membendung kesedihan dan kemarahan saya.
Pemaknaan terhadap realitas penderitaan saya tersebut sungguh mempengaruhi saya dalam memaknai berbagai penderitaan yang menghampiri saya di kemudian hari. Hal ini sangat tampak jelas ketika saya mendampingi pasien dan keluarganya yang menderita selama live in matakuliah Teologi Harapan di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta pada awal September 2017 lalu. Berhadapan dengan realitas penderitaan mereka, saya jarang berusaha untuk menghibur mereka dengan kata-kata hampa. Saya yakin bahwa kehadiran dan diam saya juga bisa membantu mereka. Paus Fransiskus mengatakan bahwa kadang-kadang diam lebih dapat membantu, khususnya ketika kita tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang menderita. Tidak benar bahwa diam adalah suatu tindakan menyerah. Justru sebaliknya, inilah momen kekuatan dan cinta. Diam menjadi bagian dari bahasa penghiburan kita, karena diam menjadi suatu jalan konkret berbagi dalam penderitaan dari saudara atau saudari kita (Misericordia et Misera (MM) 13)[4].
Tanpa diam, kita berbicara multa, sed non multum (banyak tetapi tidak banyak)[5]. Maksudnya, berbicara terus-menerus tanpa suatu momen untuk diam kadang membuat kita berbicara tanpa makna. Berhadapan dengan derita perempuan yang kedapatan berbuat zinah, Yesus menanggapi dengan suatu diam yang panjang (a lengthy silence). Maksud (diam) Yesus adalah saat untuk membiarkan suara Allah terdengar dalam suara hati bukan hanya dari perempuan tersebut, melainkan juga dalam diri para penuduhnya, yang kemudian membuang batu-batu mereka dan satu per satu meninggalkan tempat kejadian (MM 1). Jadi, dengan kehadiran dan diam kita yang tidak apatis, kita dapat membantu orang lain menemukan nama atas penderitaan mereka sendiri. Dengan demikian, mereka bisa menerima kenyataan penderitaan mereka sambil berusaha untuk keluar darinya. Singkat kata, hanya dengan masuk dalam realitas penderitaan itulah kita mampu menemukan makna hidup.



Yogyakarta, 24 Desember 2017
Salam Hangat Dariku,

Metodius Manek, CMF
 



[1] Michael Inwood, A Heidegger Dictionary, Blackwell Publishers Ltd, UK, 1999, 13-14.
[2] Paus Yohanes Paulus II, Apostolic Letter Salvifici Doloris (11 Februari 1984).
[3] Piagam bagi Para Pelayan Kesehatan, art. 69, terj. R. Hardawiryana, SJ, Dokpen KWI, 1995.
[4] Paus Fransiskus, Apostolic Letter Misericordia Et Misera (20 November 2016).
[5] John Dalrymple, “Silence”, dalam Alastair V. Campbell (ed.), A Dictionary of Pastoral Care, Crossroad, New York, 1987, 254-255.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...