Langsung ke konten utama

Menjumpai Allah dalam Pemberian Nama terhadap Realitas Penderitaan



Siapa bilang Tuhan meninggalkan Anda di saat Anda menderita. Justru Anda sendirilah yang tidak menyadari kehadiran-Nya, karena Anda diliputi perasaan sepi dan terbuang. Tulisan berikut ini barangkali bisa membantu Anda. Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan saya sebelumnya ("Apalah Arti Sebuah Nama?" dan "Pemberian Nama Menyingkapkan Misteri Penderitaan").
Harold S. Kushner dalam bukunya Melacak Makna Kehidupan (1986)[1] mengatakan bahwa mengejar kebahagiaan itu sebenarnya tujuan yang salah. Dengan memburu kebahagiaan itu, kita tidak menjadi bahagia. Hanya dengan menghayati hidup yang penuh makna itulah kita benar-benar menikmati kebahagiaan. Pandangan Kushner ini sangat relevan ketika kita berhadapan dengan realitas penderitaan. Kalau realitas penderitaan dikontraskan dengan kebahagiaan sebagai tujuan hidup yang harus dikejar, maka hanya utopia yang kita genggam. Kita akan menganggap bahwa penderitaan sebagai halangan untuk berbahagia. Maka dari itu, kita berusaha untuk berlari darinya. Akan tetapi, justru pelarian itulah yang akan membuat kita semakin menderita, karena realitas penderitaan dan krisis itu tetap ada. Sejauh mana pun Anda berlari, Anda tetap membawa penderitaan Anda. Semakin Anda berusaha untuk menolak penderitaan yang sedang menimpa Anda, Anda justru semakin menderita.
Gary L. Harbaugh mengatakan bahwa saat krisis adalah saat-saat kairos (potensial), yaitu saat Allah (akan) menerobos masuk melalui suatu cara tertentu ke dalam chronos kehidupan kita. Ini bukan waktu kita. Inilah waktu Allah, inilah saat penuh rahmat. Suatu kairos memanggil kita untuk tetap berada di tempat cukup lama untuk berpindah. Berlari dari krisis atau penderitaan merupakan sebuah reduksi kairos potensial (rahmat) yang ditawarkan menjadi suatu chronos belaka[2]. Itu berarti kita harus menjadikan rahmat bekerja (gratia operans) melalui sebuah tanggapan. Paus Benediktus XVI mengatakan, “Menurut iman Kristiani, ‘penebusan’ –keselamatan– tidak semata-mata diberikan...(tetapi) ditawarkan kepada kita”[3]. Oleh karena itu, kalau situasi krisis atau penderitaan itu merupakan sebuah kairos potensial yang menanti kita untuk mengaktualkannya, maka tanggapan dari kita untuk masuk dan memberi nama pada penderitaan tersebut adalah suatu tindakan yang harus dilakukan bila kita ingin diselamatkan. Dengan demikian, penderitaan kita bukan sebuah halangan untuk berbahagia, tetapi sebuah kairos (rahmat Allah) dalam chronos (sejarah) hidup kita.
Ketika penderitaan menghampiri, seseorang hanya akan mengetahui dengan pasti apa jalan keluar yang harus diambil ketika ia memaknai atau memberi nama pada penderitaan. Dengan demikian, menurut Kushner, kebahagiaan menyelinap masuk ke dalam hidup kita. Kebahagiaan diperoleh bukan dengan mengejar kebahagiaan. Dengan memburu kebahagiaan, kita justru tidak bahagia. Selalu kebahagiaan itu merupakan hasil sampingan, bukan tujuan yang utama. Kushner mengatakan, “Kebahagiaan itu ibarat seekor kupu-kupu. Makin Anda kejar, makin cepat kupu-kupu itu pergi terbang meninggalkan Anda dan makin cepat bersembunyi. Sebaliknya jika Anda berhenti memburu, menyembunyikan jala kupu-kupu Anda dan mulai sibuk melakukan hal-hal lainnya, hal-hal yang lebih berguna daripada mengejar kebahagiaan pribadi, dengan diam-diam kupu-kupu itu dari arah belakang akan terbang menghampiri Anda, lalu hinggap di bahu Anda.”[4] Dengan kata lain, ketika kita dalam krisis atau penderitaan, kita jangan tergesa-gesa mengarahkan pandangan pada realitas tanpa penderitaan atau berlari dari penderitaan tersebut.
Penderitaan tidak boleh dipandang semata-mata sebagai fenomena belaka yang menggangu atau menghadang kita menatap kebahagiaan. Penderitaan harus dipandang sebagai realitas, yang di dalamnya kita bisa menemukan makna hidup kita. Di dalam penderitaan yang tampak/terkatakan (yang sedang kita alami), kita mampu menyingkapkan misteri penderitaan yang masih tersembunyi/belum terkatakan. Jürgen Moltmann, dalam tulisannya The Crucified God (1974)[5], mengatakan bahwa ketika kita melihat realitas penderitaan sebagai hambatan bagi kita untuk bahagia, kita akan kesulitan untuk menemukan makna hidup kita sekaligus akan menjadikan Allah sebagai pribadi yang apatis. Penekanan penderitaan sebagai hambatan kebahagiaan menunjukkan ide ketiadaan Allah dalam realitas penderitaan. Itulah sebabnya tidak sedikit orang yang frustrasi bahkan sampai bunuh diri ketika mengalami penderitaan.
Dalam tulisan lain, Jürgen Moltmann menulis dengan sangat yakin, “Allah adalah martabat kita. Allah adalah penderitaan kita. Allah adalah harapan kita.”[6] Itulah sebabnya ia mengatakan bahwa teologi merupakan pembicaraan mengenai penderitaan dari Allah dan passion terhadap Kerajaan Allah. Jika Allah dimaknai demikian dalam pembicaran teologi, kita akan sampai pada Allah yang tersalib (the crucified God). Menurut Moltmann, Allah yang tersalib (Putra) ini selalu dalam persekutuan trinitaris. Itulah sebabnya Dia yang tersalib tidak senantiasa merasa ditinggalkan meski Dia berada dalam realitas penderitaan[7].
Di dalam eksistensi Allah yang tersalib inilah kita menemukan makna penderitaan kita. Moltmann mengatakan, Allah tidak hanya berpartisipasi dalam penderitaan kita, tetapi Dia juga menjadikan penderitaan kita sebagai penderitaan-Nya sendiri, sehingga Ia mengangkat kematian kita ke dalam hidup-Nya. Untuk menjelaskan hal ini, Moltmann mengutip kata-kata rasul Paulus, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rom 8:32)[8]. Maka dari itu, tidaklah benar pandangan segelintir orang zaman ini yang memandang ketiadaan Allah dalam realitas penderitaan manusia.
Allah justru hadir dalam seluruh sejarah kehidupan manusia, entah dalam suka maupun dalam duka. Saya mengingat sebuah video animasi yang menggambarkan keterlibatan Yesus dalam hidup seorang anak kecil di tepi pantai. Dalam suka, tampak dua pasang telapak kaki di pasir pantai laut tersebut. Namun ketika anak kecil itu dalam duka, ia melihat hanya sepasang telapak kaki. Dia bertanya, “Di manakah Yesus?” Ia menyangka Yesus telah meninggalkan dia di saat-saat krisis dan deritanya itu. Ternyata sangkaannya salah. Justru dalam penderitaanya, Yesus menggendong dia, sehingga telapak kaki yang tampak hanyalah sepasang, yakni telapak kaki Yesus sendiri. Hal ini sungguh menguatkannya dan membuat dia bersukacita meski dia masih dalam realitas penderitaan tersebut, karena ia tidak ditinggalkan. Jadi misteri yang tersingkap di balik penderitaannya yang tampak (dialami) tersebut adalah kehadiran Yesus yang senantiasa setiap mendampingi dia dalam seluruh hidupnya, baik dalam suka maupun dalam duka. Persis penemuan dia akan Yesus di balik usahanya untuk menyingkapkan realitas penderitaanya inilah yang membuat dia sabar dan kuat menghadapi penderitaanya.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa kehadiran seorang sahabat karib bagi seseorang ketika mengalami penderitaan akan mengurangi penderitaan fisik maupun psikisnya[9]. Aliran Hasidisme Yahudi Renaissance juga mengatakan bahwa ketika seseorang berada dalam ketakberdayaan, cinta dari seorang sesamanya manusia adalah keselamatannya[10]. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang tembus cahaya (translucent) dari cahaya Yesus Kristus[11], sang wajah dari belas kasihan Bapa (Misericordiae Vultus 1)[12] untuk menguatkan mereka yang sedang menderita.
Kehadiran kita bisa memberi mereka ruang untuk memaknai atau memberi nama pada penderitaan yang sedang mereka alami. Pilihan ini tidak mengikuti insting, tetapi untuk mewujudkan iman kita[13]. Rasul Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yoh 4:20). Dengan tindakan saling mengasihi, kita sungguh menjadi murid Kristus (Yoh 13:35), karena Kristus hadir dalam diri setiap orang. Dalam Injil Yesus melukiskan dengan sangat baik: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).


Yogyakarta, 25 Desember 2017
Salam Hangat Dariku,

Metodius Manek, CMF
 


[1] Harold S. Kushner, Melacak Makna Kehidupan, Kanisius, Yogyakarta, 1988, 18.
[2] Gary L. Harbaugh, Pastor as Person, Ausburg Publishing House, Minneapolis, 1984, 135-139.
[3] Paus Benediktus XVI, Encyclical Letter Spe Salvi (30 November 2007).
[4] Kushner, Melacak Makna Kehidupan, 18.
[5] Jürgen Moltmann, “The Crucified God”, Theology Today (Vol 31-No. 1), 1974, 6-18.
[6] Jürgen Moltmann, “Theology in the Project of the Modern World”, dalam Miroslav Volf (ed.), A Passion for God’s Reign, William B. Eerdmans Publishing Company, UK, 1998, 1-21.
[7] Moltmann, “The Crucified God”, 14-15.
[8] Moltmann, “The Crucified God”, 15.
[9] Ryan E. Adams, dkk., The Presence of a Best Friend Buffers the Effects of Negative Experiences (Psychology Faculty Publications (37), 2011).
[10] Martin Buber, Book III The Life of the Hasidism (1908) dalam Martin Buber, Hasdism and Modern Man (Kumpulan Buku), Horizon Press, New York, 1958, 117.
[11] Harbaugh, Pastor as Person, 138.
[12] Paus Fransiskus, Bull of Indiction of the Extraordinary Jubilee of Mercy Misericordiae Vultus (11 April 2015).
[13] Harbaugh, Pastor as Person, 136.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...