Langsung ke konten utama

Apalah Arti Sebuah Nama?



Shakespear pernah menulis “Apalah arti sebuah nama?”. Seseorang pun pernah mengajukan sebuah pertanyaan yang sama kepada saya ketika saya bertanya tentang namanya. Baginya nama itu tiada artinya. Hal ini memberi saya sebuah pertanyaan pergulatan yang mendalam. Kalau nama itu tiada artinya bagi kita, mengapa kita harus mempunyai nama? Mengapa orang tua kita harus melalui tahap permenungan yang panjang sebelum memberi nama untuk kita? Mengapa kita harus merasa tersinggung dan marah kalau nama kita dijelekkan orang lain? Bukankah nama itu hanyalah gabungan dari huruf-huruf yang membentuk kata?
Dalam budaya saya sebagai orang Dawan-Timor Barat, pemberian nama bagi seorang bayi yang baru lahir harus disetujui oleh leluhur. Karena itu, banyak orang tua sering kali mengalami kesulitan besar pada saat menentukan nama yang tepat bagi anaknya yang baru lahir. Bukan hanya supaya kedengaran indah, melainkan apakah nama yang diberikan itu disetujui leluhur atau tidak. Ketika seorang anak lahir ke dunia, ia menangis. Kami percaya bahwa tangisannya sebagai tanda untuk meminta diberikan nama. Orang tua akan mencoba-coba menyebut nama-nama dari para leluhur. Tangisannya hanya akan terhenti seketika nama leluhur tertentu disebut. Karena itu, terhentinya tangisan itu dipercaya masyarakat Dawan-Timor Barat sebagai persetujuan dari para leluhur akan nama baru tersebut. Nama yang baru diberikan itu tidak lain adalah nama dari leluhur yang disebut dan seketika menghentikan tangis bayi itu. Proses penamaan yang sedemikian rumit seperti ini, masihkah bisa dipertahankan persepsi orang akan ketiadaan arti sebuah nama sehingga dengan enteng bertanya, “Apalah arti sebuah nama?”.
Sejarah hidup manusia membuktikan bahwa manusia cenderung untuk mengetahui nama dari sebuah realitas, bahkan manusia juga memberi nama pada realitas (bdk. Kej 2:19-20). Manusia tidak suka realitas tanpa nama atau anonim. Realitas tanpa nama hanya akan membentuk sebuah kerumunan (crowd). Dalam kerumunan tersebut, keunikan setiap ada lenyap. Lebih buruk lagi jika realitas tanpa nama itu adalaha manusia. Kumpulan manusia tanpa nama hanya akan menjadi kerumunan massa belaka. Kebenaran pun menjadi tiada dalam kerumunan tersebut. Itulah sebabnya Kierkegaard berkata, “Kerumunan adalah kebohongan (untruth)”[1]. Lebih ekstrem dari Kierkegaard, menurut Buber, kerumunan tidak hanya merupakan sebuah kebohongan (untruth), melainkan lebih sebagai ketidakbenaran (non-truth). Alasannya, kerumunan mengungkung kebebasan personal seseorang sehingga membuatnya tidak mampu membuat sebuah keputusan personal. Dalam kerumunan, orang tidak masuk dalam relasi mutual Aku-Dikau[2] dengan sesamanya, tetapi justru hanya memperalat sesamanya[3].
Dalam konsep Buber, orang-orang yang hidup dalam kerumunan itu disebut kolektivisme. Di sana hanya ada kumpulan individu yang hanya berdampingan (side by side) tanpa relasi mutual Aku-Dikau atau tanpa dialog sejati. Kolektivisme bukan suatu jalinan (binding), melainkan hanyalah suatu bendel (bundling) bersama. Sebaliknya, komunitas –atau lebih tepatnya komunitas yang bertumbuh– adalah “ada-ada” yang tidak lagi berdampingan (side by side), tetapi terjalin bersama satu sama lain di antara pribadi-pribadi mereka yang banyak. Orang banyak (multitude) ini, meskipun bergerak ke arah satu tujuan juga, tetapi mereka mengalami di mana pun suatu pembalikan/keterarahan kembali (return) menuju orang lain, yakni suatu aliran dari Aku menuju Dikau[4]. Secara sederhana, dapat dirumuskan bahwa keunikan setiap pribadi yang berelasi itu hanya akan tetap terjadi bila manusia saling menyapa dengan nama, bukan tanpa nama atau anonim sebagai kerumunan (crowd) saja.
Dalam Kitab Suci, terdapat banyak teks yang mengungkapkan mengenai pemberian nama. Manusia memberi (bahkan menggantikan) nama dari sebuah tempat (Kej 32:30), memberi nama kepada sesuatu yang baru ditemukan (Kel 16:31), juga memberikan nama kepada manusia yang baru lahir (Luk 1:59-63). Semua itu dilakukan karena manusia memang cenderung ingin memberi nama pada segala hal yang dijumpainya. Itulah sebabnya manusia akan senantiasa bertanya-tanya bila suatu realitas yang dijumpainya masih tanpa nama. Ia akan bergulat dan berusaha untuk mencari nama yang tepat agar diberikan kepada realitas yang masih anonim tersebut. Beberapa contoh biblis mampu memberi gambaran bagi kita mengenai hal ini. Manusia cenderung untuk mananyakan nama orang baru (Kej 32:27-29). Ia juga menanyakan nama realitas ilahi (Kel 3:13-15). Bahkan manusia pun menanyakan nama setan, sebagaimana pernah dilakukan Yesus sendiri (Luk Mrk 5:9; Luk 8:30).
Hal ini pun kita temui dalam realitas harian kita. Kita tidak puas melihat suatu realitas apa adanya. Kita selalu ingin memberi nama pada setiap hal yang kita jumpai. Tanpa nama seakan membatasi ruang gerak kita untuk membangun relasi dengan realitas tersebut. Itulah sebabnya kita senantiasa bertanya akan realitas hidup kita, lebih-lebih jika berhadapan dengan peristiwa penderitaan yang merorong eksistensi kita.


Yogyakarta, 21 Desember 2017
Salam Hangat Dariku,


Metodius Manek, CMF
 


[1] Martin Buber, Between Man and Man (ed. II), diterjemahkan oleh Ronald Gregor-Smith, Taylor & Francis e-Library, London dan New York 2004, 75.
[2] Relasi Aku-Dikau merupakan relasi yang tidak mengobjekkan. Relasi ini terjadi karena cinta.
[3] Buber, Between Man and Man (ed. II), 55.
[4] Buber, Between Man and Man (ed. II), 37.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...