Jawabannya: TIDAK! Ini
alasannya.
Hari ini kita merayakan pesta St. Tomas Rasul. Setiap kali menyebut nama
rasul Tomas, spontan terbersit dalam benak orang, bahwa Tomas
adalah orang yang ragu-ragu atau kurang percaya. Buktinya dalam kehidupan
harian kita, orang yang meragukan sering kita sebut sebagai Tomas. Tapi apakah
Tomas itu IDENTIK dengan orang yang kurang percaya atau orang yang ragu-ragu
atau orang yang percaya kalau ada bukti?
Tentu saja tidak. Dalam Injil, kita mengenal Tomas lewat dua teks, yaitu
“Rumah Bapa” (Yoh 14:5) dan “Yesus Menampakkan Diri kepada Tomas” (Yoh
20:24-29). Dalam Yoh 20:24-29 memang benar Tomas digambarkan sebagai orang yang
meminta bukti untuk percaya.
Tapi apakah itulah identitas Tomas? Tidak mudah mengatakan demikian. Atau
apakah dengan begitu Tomas berdosa? TIDAK! Karena
waktu itu banyak kabar angin mengenai kematian dan kebangkitan Yesus. Supaya imannya
akan Yesus bukan beriman buta, rasul Tomas meminta bukti. Ia tak mau beriman di
atas isu dan gosip orang lain. Ia ingin mengalami secara langsung kebangkitan
Yesus itu.
Buktinya, setelah melihat dan bertemu serta mengalami Yesus secara
langsung, ia menjadi sungguh percaya, bahkan di kemudian hari rela mati demi
iman dan cintanya kepada Yesus. Persis inilah naluri kodrati manusiawi yang
kita perlukan pada zaman ini. Hindarilah gosip dan berusahalah bertemu
langsung, face to face (bukan facebook) kalau ada persoalan, untuk
dicari jalan keluarnya.
Contoh baik dari rasul Tomas semakin tampak jelas dalam Yoh 14:5. Ketika
Yesus mengatakan: “Ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ” (Yoh 14:4),
Tomas yang tidak tahu jalan itu spontan bertanya: “Tuhan kami tidak tahu ke mana
Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh 14:5).
Tomas bertanya karena tidak tahu. Lebih dari itu, Tomas tidak ingin beriman
secara buta. Tapi ia ingin Yesus sendirilah yang menunjukkan kepadanya bagaimana
seharusnya beriman. Karena itu, ia mau mengalami Yesus secara langsung.
Katanya: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku
mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam
lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25).
Sampai di sini, apakah kita masih menghakimi Tomas bahwa ia IDENTIK dengan
orang yang ragu-ragu atau kurang percaya? Sekali lagi: TIDAK BISA! Tomas meminta
bukti untuk sungguh-sungguh percaya, tapi ia TIDAK IDENTIK dengan orang yang
selalu ragu-ragu atau kurang percaya. Justru Tomas itu orang yang tak mau
beriman buta, dan dengan polos ingin mencari tahu agar imannya semakin mendalam
kepada Tuhan.
Dan inilah tendensi kodrat manusiawi kita: curiosity, berhasrat untuk tahu sesuatu secara mendalam. Karena itu,
tendensi ini bukanlah dosa sejauh kita tidak jatuh dalam ekstrem
intelektualisme belaka.
Akhirnya, marilah kita berlomba dalam percaya. Amin.
Yogyakarta, 3 Juli 2015
Salam Hangat dariku,
Metodius Manek, CMF

Komentar
Posting Komentar