Mengapa? Ini
alasannya.
Abraham
dipanggil keluar dari Haran ke Kanaan saat ia berusia 75 tahun. Allah berjanji
akan membuat dia menjadi suatu bangsa yang besar (Kej 12:2). Tapi Sarai,
istrinya itu, mandul, tidak mempunyai anak (Kej 11:30). Lalu siapa yang akan
menjadi ahli waris dan menerima kepenuhan janji ‘menjadi bangsa yang besar
itu’?
Abraham berpikir
Eliezer, hambanya dari Damsyik itu, yang akan menjadi ahli warisnya. Tapi Tuhan
mengatakan, anak kandung Abrahamlah yang akan menjadi ahli warisnya (Kej
15:3-4). Akan tetapi, masalahnya adalah saat itu Abraham sudah berumur 100
tahun dan Sara berumur 90 tahun. Keduanya sudah tua. Sara tidak hanya sudah tua
dan mandul, tetapi juga sudah menopause, mati haidnya (Kej 18:11-13). Mana mungkin
punya anak? (Kej 17:17).
Karena itu,
Abraham memohon Allah memperkenankan Ismael, anaknya dari hambanya Hagar, untuk
dijadikan ahli waris. Tetapi sekali lagi Tuhan bersabda, anak kandung Abraham
dari istrinya Saralah yang akan menjadi ahli warisnya (Kej 17:18-19).
Sungguh bagi
Allah tidak ada yang mustahil (bdk. Kej 18:14). Sara pun mengandung, dan
pada usia 91 tahun (bdk. Kej 17:17 dan Kej 18: 10), ia melahirkan Ishak
bagi Abraham (Kej 21:5). Karena Ishak, putra tunggalnya ini, dilahirkan pada
masa tua mereka, ia sangat dikasihi (Kej 22:2). Kehadiran Ishak bagai napas
yang menguatkan dan meremajakan kembali daging dan tulang sepuh mereka yang
telah usang.
Namun setelah
Ishak disunat (Kej 21:4) dan disapih (Kej 21:8), Allah meminta Abraham
mempersembahkannya sebagai korban bakaran. Tanpa membantah, Abraham rela demi
imannya kepada Allah. Ishak, putra tunggal yang sudah diinginkan
bertahun-tahun, kini harus disembelih.
Sulit
dibayangkan! Tapi itulah Abraham. Imannya begitu teguh. Anak tunggal yang
sangat dikasihi mau disembelih. Melihat iman itu, Allah memberi domba sebagai
korban bakaran pengganti anaknya, Ishak (Kej 22:13). Ishak pun tidak jadi
disembelih. Tapi Abraham lulus ujian tes iman.
Sampai di sini,
kiranya menjadi jelas dan pantas bila Abraham disebut sebagai Bapa segala orang
beriman. Pesan: sungguh beriman teguh kepada Tuhan itu tidak sia-sia. Mari kita
berdoa mohon keteguah iman dari Allah. Semoga kita bisa menjadi Abraham-Abraham
kecil di zaman ini. Amin.
Yogyakarta, 2 Juli 2015
Salam Hangat dariku,
Metodius Manek, CMF

Komentar
Posting Komentar