Mata saya rabun. Saya tidak bisa melihat dengan jelas. Karena itu, saya menggunakan alat bantu, yaitu kacamata. Tanpa kacamata, saya bisa melihat juga. Namun, semua yang saya lihat hanya tampak samar-samar. Ketika melepas kacamata, banyak kali saya salah mengenal realitas di sekitar saya. Terkadang saya terantuk dan jatuh ketika berjalan tanpa kacamata. Singkat kata, kacamata sungguh menjadi bagi saya seperti penuntun dalam hidup saya. Dengan kacamata, (mata) saya dibantu untuk melihat dengan jelas dan mengenal secara tepat realitas di sekitar saya.
Seperti betapa berartinya kacamata bagi mata saya, saya pun membutuhkan bantuan tuntunan orang lain supaya bisa mengenal suara Tuhan secara tepat. Tanpa tuntunan orang lain yang lebih dekat dengan Tuhan, barangkali saya bisa mengenal suara Tuhan, tetapi suara Tuhan terdengar samar-samar. Barangkali suara Tuhan terbawa angin keras ego saya, sehingga kemungkinan besar saya salah menangkap perkataan Tuhan yang sebenarnya.
Kita ingat kisah panggilan Samuel (1 Sam 3:1-10). Ketika Allah memanggil namanya, Samuel berpikir suara itu adalah suara Eli. Karena itu, setelah mendengar suara panggilan itu, cepat-cepat Samuel menghadap Eli. Samuel sama sekali tidak mengetahui bahwa suara itu adalah suara Tuhan. Alasannya sederhana: pada waktu itu, ia belum mengenal suara Tuhan (1 Sam 3:7).
Sebaliknya, Eli sudah sangat familiar dengan suara Tuhan. Oleh karena itu, meski awalnya Eli pun tidak mengetahui bahwa suara itu adalah suara Allah, akhirnya Eli pun sadar bahwa suara itu adalah suara Allah yang telah memanggil Samuel. Eli sungguh mengetahui bagaimana gaya Tuhan memanggil seseorang. Atas tuntunan Eli, Samuel akhirnya menanggapi panggilan Tuhan dengan keteguhan iman berkata: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1 Sam 3:10). Dengan kata lain, “Samuel yang muda itu menjadi pelayan Tuhan di bawah pengawasan Eli” (1 Sam 3:1).
Dalam tradisi Gereja Katolik, panuntun spiritual seperti Eli disebut Bapa Rohani atau (sekaligus) Bapa Pengakuan. Mereka tidak hanya bijaksana dan pandai berbicara, tetapi juga selalu dekat dengan Tuhan. Mereka sangat familiar dengan suara Tuhan. Mereka juga sangat friendly, sehingga bisa menjadi teman curhat yang menarik dan nyaman. Dalam arti yang lebih mendalam, mereka bisa menghubungkan kita dengan sesama dan Tuhan serta alam semesta.
Salah satu figur terbaik sebagai Bapa Rohani dan Bapa Pengakuan dalam sejarah Gereja Katolik adalah Santo Yohanes Maria Vianney (pelindung para imam), yang meski lemah pikiran, tetapi lembut hati untuk mendengarkan keluh kesah setiap orang yang datang mohon bimbingan kepadanya. Dia berhasil membawa banyak orang kembali kepada jalan yang benar, sehingga setelah wafatnya Gereja Katolik menetapkan dia menjadi model dan teladan para imam (dari Tuhan Yesus Kristus) sepanjang masa. Barangkali di zaman now ini kita membutuhkan bantuan mereka.
Yogyakarta, 11 Januari 2018
Salam Hangat Dariku,
Metodius Manek, CMF

bagus banget fr. saya (siswa ACH 2016) bangga dgn kondisi saya ini, yg sama seperti fr....
BalasHapusHaha, ok terima kasih, sudah mau menerima diri n bangga dengan kondisi saat ini, hehehe
Hapusdulu saya juga alami kesulitan ketika awalnya tahu bahwa saya rabun, hehehe
salam semangat...