(kutipan)[1]
Menurut Martin
Buber, tanggung jawab sejati hanya berada di mana ada tanggapan real. Tanggapan
real selalu berarti tanggapan atas sesuatu atau seseorang di luar diri saya
dalam ke-liyan-annya. Karena itu secara faktual, tanggung jawab hanya berada
kalau ada “pengadilan” di sana yang kepadanya saya bertanggung jawab, dan
tanggung jawab diri hanya menjadi suatu realitas ketika “diri” yang kepadanya
saya bertanggung jawab menjadi jelas menuju
ke yang absolut atau Allah[2].
Orang bisa saja
menghindar dengan seluruh kekuatannya untuk percaya bahwa Allah ada di sana.
Akan tetapi, dia merasakan Allah dalam sakramen dialog yang tepat, kalau dia menanggapi Dikau
secara benar. Dengan kata lain, orang yang entah
mengakui entah membenci nama Allah, tetapi sungguh memiliki Dikau dalam kepalanya ketika ia sedang
menanggapi Dikau yang tak bisa
dibatasi oleh Dikau yang lain, pada
saat itu juga ia sedang menyapa Allah[3]. Jadi,
tanggapan real dan tanggung jawab sejati hanya ada kalau Allah menuntutnya.
Pemikiran ini
tentu tidak terlepas dari konsep Yudaisme, khususnya yang dihidupi aliran
Hasidisme, mengenai penciptaan. Untuk memperjelas hal ini, berikut ini akan
dikisahkan sebuah cerita, yang merupakan
satu-satunya cerita yang dinarasikan dalam
buku Buber Between Man and Man (1947) untuk mengilustrasikan dunia atas dan dunia bawah[4].
Ada sebuah cerita mengenai seorang
manusia yang diinspirasi oleh Allah. Suatu kali ia pergi keluar dari dunia
ciptaan ke dalam pembuangan yang luas. Di sana dia mengembara sampai dia tiba
pada gerbang misteri.
Dia mengetuk.
Dari dalam muncul teriakan: “Apa
yang Anda inginkan di sini?”
Dia mengatakan: “Saya telah
menyatakan pujian-mu ke dalam telinga makhluk hidup, tetapi mereka tuli kepada
saya. Karena itu, saya datang kepada Anda supaya Anda sendiri barangkali
mendengarkan saya dan menjawab.”
“Pulang sana!” muncul teriakan dari
dalam. “Di sini tidak ada telinga bagi Anda. Saya telah menenggelamkan
pendengaran saya ke dalam ketulian makhluk hidup.”
Maksud
dari kisah ini dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam
Book II My Way to Hasidism (1918),
Buber menulis, “Dalam ajaran Hasidisme, seluruh dunia adalah hanya satu “kata”
(word) yang keluar dari mulut Allah”[5]. Tiada yang
dapat menolak menjadi bejana (vessel)
bagi “kata”[6].
Setiap tempat dan waktu menjadi bejana “kata”[7]. Setiap situasi memiliki satu “kata” untuk “mengatakan
sesuatu” kepada kita[8].
Kesimpulan:
apapun yang kita jumpai dalam hidup kita, janganlah dipandang sebelah mata, karena
sesungguhnya kita telah disapa dalam perjumpaan itu, yang sekaligus menuntut
kita untuk bertindak sesuatu; entah untuk memperbaiki diri kita sendiri atau
untuk bersama orang lain memperbaiki dirinya.
Yogyakarta, 20 Januari 2018
Salam Hangat dariku,
Metodius Manek, CMF
[1]
Seluruh tulisan berikut ini adalah
salah satu kutipan dari tulisan akhir saya dua tahun lalu, kecuali judul
tulisan ini dan kesimpulannya.
[2] Martin Buber, Between Man and Man (ed. II), diterjemahkan oleh Ronald
Gregor-Smith, Taylor & Francis e-Library, London dan New York 2004, 18-20.
[3] Martin
Buber, I and Thou (ed. I), diterjemahkan
dari Ich und Du, oleh Ronald Gregor
Smith, T. & T. Clark, Endinburgh
1937,
75-76.
[5] Martin Buber, Book II My Way to Hasidism (1918), dalam
Martin Buber, Hasidism and Modern Man,
Horizon Press, New York 1958, 49.
[7] Martin
Buber, Ten Rungs, Collected Hasidic
Sayings, Taylor & Francis e-Library, London 2005, 16.
[8] Martin Buber, “Replies
to My Critics”, dalam Paul Arthur
Schilpp – Friedman Maurice (eds.), The Philosophy of Martin Buber, The
Library of Living Philosophers Volume, XII, USA 1967, 722.

Komentar
Posting Komentar