Langsung ke konten utama

Gelisah Hatiku



Sebelum kutahu merangkai kata, hanya ada senyum dan tawa. Memang ada rengek dan tangis, tapi rengek dan tangis itu hanya pengganti untaian kata bahasa ibuku. Orang-orang menyebut aku ‘seorang bayi’.

Ketika aku mulai tumbuh, aku dibimbing untuk berpikir dan merasa. Semakin aku beranjak dewasa, banyak hal yang kupikirkan dan kurasakan.

Hari kemarin, hari ini, dan hari esok, itulah waktu pergulatanku untuk berpikir dan merasa. Kugulati kemarin dalam kenangan. Hari ini kunikmati dalam rahmat Tuhan. Hari esok kutatap dengan penuh misteri.

Seandainya kenangan itu selalu indah, barangkali aku lebih suka memutar mundur waktu. Seandainya  rahmat Tuhan selalu kurasakan hari ini, barangkali aku memilih untuk memperpanjang hari ini. Seandainya hari esok telah tersingkap, barangkali aku ingin meloncat ke masa depan cerah yang penuh bahagia.

Namun, semua tidak selalu seperti itu. Hari kemarin tak selalu indah. Rahmat hari ini pun bagai lenyap. Misteri hari esok pun masih terlalu gelap untuk disingkap.

Itulah sebabnya gelisah hatiku selalu. Tak tahu ke mana aku harus mengadu.

Tapi spontan kumasuk dalam kegelisahan hati Simon Petrus: “Yesus Tuhanku, kepada siapakah aku akan pergi? Hanya Engkau harapan hidupku!”

Memang betapa gelisah hatiku. Tapi asaku tak pernah putus, lebih-lebih saat kudengar rintihan hati Santo Agustinus, yang selalu hidup dalam kerinduan untuk bersatu dengan Allah: “Gelisah hatiku selama belum istirahat pada-Mu, bilakah aku akan jumpa dan memandang wajah-Mu?”

Bersama Santo Agustinus, kuingin hidup dalam kerinduan yang selalu memacu hasrat dan gairah hidupku untuk selalu bergejolak mencari wajah Allahku. Amin.

Yogyakarta, 28 Agustus 2015
Salam Hangat dariku,

Metodius Manek, CMF



Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...