Saya tidak bermaksud berspekulasi atau berteori
mengenai kata “orientasi”. Saya hanya akan membagikan pengalaman hidup saya
selama menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Komunitas Aspirantado
Claretiano Hera (ACH) Timor Leste. Bagi saya, TOP sangat berarti. Saya belajar
bagaimana seharusnya belajar. Saya melahirkan dan menumbuhkembangkan serta
membangkitkan terus-menerus spiritualitas pelayanan dan pastoral saya dalam durasi
satu tahun ini (TA. 2016/2017).
Persis itulah yang saya alami dan selalu saya usahakan
selama menjalani masa orientasi pastoral di Komunitas ACH Timor Leste. Saya
semakin yakin bahwa hidup ini bagaikan sebuah orientasi yang tak berkesudahan.
Kita tak tahu pasti, kapan masa orientasi ini berakhir. Kalau hidup adalah
sebuah orientasi yang tak berkesudahan, maka selama di dunia ini sudah
seharusnya hidup sekarang ini menjadi masa orientasi terus-menerus. Hidup di
dunia ini harus menjadi saat untuk belajar menjadi lebih baik dan lebih baik
lagi. Belajar, belajar, dan belajar! Sampai hidup di dunia ini berakhir,
barangkali itulah saat untuk berhenti belajar. Saat itulah saat untuk menyudahi
masa orientasi.
Ada banyak hal penting dan berarti yang telah saya
dapatkan selama menjalani TOP saya di Komunitas ACH Timor Leste. Namun, satu
hal penting yang sangat menggugat saya adalah bagaimana saya harus selalu
menjadi pribadi yang siap untuk diberi orientasi.
Saya selalu mempunyai alur berpikir begini selama TOP.
Orang yang siap diberi orientasi adalah orang yang siap untuk belajar, bukan duduk
berpangku tangan saja. Orang yang siap diberi orientasi adalah orang yang
rendah hati untuk menerima, bukan selalu protes. Orang yang siap untuk diberi
orientasi adalah orang yang siap untuk disakiti, karena pasti ada banyak hal
yang terasa baru, asing, dan aneh bahkan tidak disukai. Konsekuensinya, orang
yang siap untuk diberi orientasi adalah orang yang siap memaafkan, karena bisa
jadi pernah disakiti. Orang yang siap untuk diberi orientasi adalah orang yang
siap untuk tulus dan ikhlas meminta maaf apabila berbuat salah, karena yang
namanya dalam tahap orientasi pasti pernah salah dan tidak mampu. Akhirnya,
orang yang siap untuk diberi orientasi adalah orang yang siap untuk melihat
segala sesuatu yang terjadi sebagai sebuah rancangan besar dari Allah untuk
dirinya.
Persis itulah yang senantiasa me-roh dalam diri
saya selama TOP di Komunitas ACH Timor Leste.
Untuk semua hal luar biasa yang telah terjadi dalam hidup
saya selama TOP tersebut, saya mau bersyukur dan berterima kasih kepada
Tritunggal Mahakudus dan Bunda Maria!
Juga tak lupa kuingin khususkan doa untuk semua orang
yang pernah kujumpai dalam hidupku selama TOP di Timor Leste, teristimewa bagi
semua anggota Komunitas ACH Timor Leste. Amin.
Claretian-House
Matani-Kupang,
Rabu, 14
Juni 2017
Salam Hangat
Dariku,
Metodius Manek, CMF
Komentar
Posting Komentar