Saya heran, mengapa saya sulit sekali
melakukan seperti yang mereka katakan. Mereka bilang: jangan bergaul dengan
orang itu, orang ini, dan masih banyak lagi. Alasannya sederhana. Katanya
orang-orang tersebut bisa merusak hidup saya.
Saya bergulat dengan semua perkataan
itu. Saya selalu membawa larangan-larang itu setiap kali saya akan mendekati
orang lain. Hal ini membuat saya selalu hati-hati dalam bergaul. Bahkan saya sangat
sering berprasangka buruk ketika berpapasan dengan orang lain.
Saya pun takut bila duduk
berdampingan, sekalipun sedang ber-Ekaristi di dalam Gereja. Apalagi menelepon
atau mengirim pesan, saya pasti selalu hati-hati. Karena itu, saya merasa
seperti terpenjara dengan semua larangan itu.
Beberapa hari belakangan ini saya
selalu membaca dan merenungkan tulisan Paus Fransiskus yang terakhir, yaitu
Eksortasi Apostolik “Amoris Laetetia”, yang dikeluarkan pada tanggal 19 Maret
2016.
Jujur saya
katakan: saya sangat kagum dengan tulisan-tulisan Paus Fransiskus, termasuk
“Amoris Laetetia” ini. Banyak hal menarik yang sangat inspiratif mengubah hidup
saya setelah membaca dan merenungkan kata-kata Paus Fransiskus.
Saya sangat
tersentuh dengan kata-kata Paus Fransiskus berikut ini:
“...media
(TV, Hp, Komputer, Fb, Twitter, WA, Line, dll.) TIDAK DAPAT MENGGANTIKAN dialog
yang lebih personal dan langsung, yang mana mensyaratkan kehadiran fisik, atau
paling kurang mendengar suara dari orang lain...(atau cukup dengan membaca
tulisan tangan orang lain, atau ketikan kata-kata yang menyapa dengan lembut
dan intim mereka)” [lih. “Amoris Laetetia”, 278].
Asumsi dasar
dari kutipan ini adalah tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Karena itu,
kerinduan untuk bertemu dan hidup bersama orang lain pun tak bisa disangkal.
Konsekuensinya, larangan untuk mendekati orang lain menjadi mustahil.
Sampai di
sini, saya mau katakan: “Aku tak mampu hidup sendiri! Karena aku diciptakan MELALUI
(kedua orang tua) dan hidup UNTUK dan BERSAMA orang lain (semua orang tanpa
membeda-bedakan)”.
Saya mengerti
sekarang, mengapa larangan-larangan tersebut mengekang dan memenjarakan saya
(!?!).
Yogyakarta, 8 Juni 2016
Salam Hangat dariku,
Metodius Manek, CMF

Komentar
Posting Komentar