Langsung ke konten utama

Dari Hati ke Hati




Konon katanya ada seorang gadis cantik yang sangat bijak dan saleh. Itulah sebabnya gadis ini sejak masa mudanya sudah dipanggil dengan sebutan: IBU atau BUNDA.

Gadis ini mempunyai hati yang sangat berbela rasa. Ia mampu memahami penderitaan orang lain. Ia pun selalu membaktikan dirinya demi kebahagiaan orang lain.

Suatu ketika datanglah seorang pemuda untuk berdialog dengannya. Tidak jauh dari tempat mereka berdialog, terlihat sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Mereka saling membentak dan menghentak tangan dan kaki.

Suara sepasang suami-istri itu melengking tinggi memecah langit dan memekik jagat raya. Mereka seakan sedang berlomba untuk menentukan: siapakah yang memiliki teriakan terbesar dan pekikan tertinggi?

Menyaksikan adegan itu, si Pemuda itu bertanya pada sang BUNDA yang bijak dan saleh itu.

Si Pemuda           : “BUNDA!”

Sang BUNDA      : “Iya, Nak!”

Si Pemuda           : “Saya mau bertanya, BUNDA!”

Sang BUNDA      : “Silakan, Nak!”

Si Pemuda           :”Saya heran, BUNDA…??!!!???”

Sang BUNDA      : “Mengapa heran, Nak? Memangnya ada apa?”

Si Pemuda           : “Mengapa suami-istri itu tidak bicara pelan-pelan saja. Kan mereka saling berdekatan. Mengapa mereka harus berteriak-teriak seperti itu?”

Sang BUNDA      : “Nak, suami-istri itu memang saling berdekatan secara fisik. Tapi hati mereka saling berjauhan. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak supaya hati mereka yang berjauhan itu mampu mendengarkan satu sama lain.”

Si Pemuda           : “O…, berarti orang-orang yang hatinya berdekatan tidak perlu berteriak-teriak, ya BUNDA?”

Sang BUNDA      : “Iya, Nak. Orang-orang yang hatinya berdekatan tidak perlu berteriak-teriak saat berkomunikasi. Bahkan tanpa mengeluarkan kata-kata pun, mereka sudah mampu saling memahami, karena mereka berkomunikasi dari hati ke hati.”

Si Pemuda           : “Hmmm…, berarti sama seperti komunikasi antara penulis dan pembaca tulisan ini, ya BUNDA? Mereka tidak berteriak-teriak, padahal mereka berjauhan.”

Sang BUNDA      : “…..????!!!???”


(yes yes yes…. BUNDA-nya tidak tahu menjawab….hahahaha)


Yogyakarta, 11 Mei 2016
Salam Hangat dariku,

Metodius Manek, CMF


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...