Langsung ke konten utama

Ketika Nalar Memenjarakan Allah dalam Agama



Semua ini terjadi karena kehendak Allah!”

Pernyataan ini tidak asing lagi bagi kita. Kita mendengarnya dalam berbagai aspek kehidupan. Kita juga sering mengatakannya. Tampaknya, Allah menghendaki dan menentukan segala hal dalam hidup kita. Sukses-gagal, suka-duka, dan untung-malang kita pahami sebagai kehendak Allah.

Ketika bangsa primitif ingin berperang, mereka selalu berdoa dan mempersembahkan korban. Mereka meminta petunjuk dari Realitas Ilahi yang mereka sembah. Mereka ingin tahu, apakah Realitas Ilahi menghendaki perang atau tidak. Mereka berusaha membujuk realitas ilahi yang mereka sembah untuk menyetujui niat sekaligus memimpin mereka dalam berperang.

Ketika pecah perang suci (salib), perang antara agama Kristen dan Islam,  terjadi hal yang sama. Agama Islam dan Kristen berusaha memikat hati Allah supaya berpihak kepada kelompok mereka masing-masing. Berbagai ritual suci dibuat supaya Allah terpesona. Akhirnya, baik agama Kristen maupun Islam sampai pada pernyataan, Allah menghendaki perang. Karena itu, perang saat itu disebut perang suci, perang yang dikehendaki Allah.

Tampaknya perang antara kedua agama sekaligus merupakan perang antara Allah masing-masing. Allah orang Kristen berperang melawan Allah orang Islam. Allah, sebagai Realitas Tertinggi, seakan-akan ada dua. Agama Kristen memiliki satu, sedangkan agama Islam pun memiliki satu.

Pandangan semacam ini tidak terkubur saat itu. Di tengah tantangan zaman kita ini pun, pemahaman ini terus hidup dan tumbuh subur seolah-olah menjadi dogma-absolut masing-masing agama. Orang Kristen tidak mau menyamakan Allah mereka dengan Allah orang Islam, begitu pula sebaliknya dengan orang Islam. Kedua agama selalu 'mempertahankan otonomi Allah' dalam agama mereka masing-masing. Bahkan, baik orang Islam maupun orang Kristen dengan tegas mengklaim, Allah mereka masing-masing hanya mau menyelamatkan umat dalam agama mereka masing-masing. Karena itu, pandangan ini mendorong baik agama Islam maupun Kristen selalu berusaha untuk saling memengaruhi. Orang Islam berusaha meng-Islam-kan orang Kristen, sedangkan orang Kristen berusaha meng-Kristen-kan orang Islam. Akibatnya, pandangan ini menjadi sumber konflik antara agama Islam dan Kristen.

Secara esensial, agama bukan hasil perjuangan atau ciptaan manusia. Eksistensi semua agama semata-mata merupakan anugerah Allah. Hanya karena kasih Allah, manusia dipanggil untuk masuk dalam persekutuan hidup-Nya. Ia memanggil manusia secara pribadi, tetapi sekaligus membentuk mereka dalam satu paguyuban untuk tinggal bersama dan mengalami kasih setia-Nya. Karena itu, agama bukan tujuan peziarahan hidup manusia, melainkan hanyalah sarana untuk berziarah menuju Allah.

Di sini tampak jelas, Allah melampaui agama-agama. Sebagai sarana, fungsi agama adalah mengantar manusia untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah. Bukan sebaliknya seperti yang sering terjadi dalam tantangan zaman dewasa ini, agama tertentu memenjarakan Allah dalam agamanya demi 'kejayaan' agamanya. Agama seolah-olah menjadi tujuan peziarahan manusia, sehingga Allah dipaksa untuk masuk dalam kurungan agama.

Secara ontologis, kita tidak mungkin memenjarakan Allah, karena Allah itu Maha Besar, Allah itu Maha Agung. Ia melampaui segala sesuatu. Karena itu, setiap agama tidak bisa mengklaim bahwa Allah hanya ada dalam agamanya. Jika demikian, agama tersebut sekaligus menyatakan keterbatasan Allah, karena telah berhasil menaklukkan dan memenjarakan Allah dalam agamanya. Dengan demikian, Allah yang dikurung itu bukan Allah lagi, melainkan hasil proyeksi agama tersebut.

Sesungguhnya, tantangan zaman sekarang telah memaksa nalar manusia untuk memenjarakan Allah dalam agama yang dianutnya. Dengan berbagai doktrin dan dogma logis, manusia membatasi Allah karena tantangan zaman menuntut. Kitab Suci yang berisi Sabda Allah sendiri pun ditafsir seenaknya demi membenarkan tindakan. Akibatnya, setiap tindakan penganiayan baik terhadap orang lain maupun terhadap agama tertentu pun dianggap mulia, karena diklaim sebagai kehendak Allah. Dengan demikan, manusia menjadikan Allah berdosa, karena dipaksa untuk memenuhi keinginan manusia di tengah tantangan zaman ini. Allah dikurung dalam agama tertentu untuk ikut membenci ciptaan-Nya sendiri. Padahal, Allah selalu mencintai semua orang, tanpa membeda-bedakan agamanya.

Akhirnya, di tengah tantangan zaman pluralitas ini, yang dituntut dari kita semua sebagai manusia beragama adalah kita jangan menggunakan nalar untuk membenarkan setiap tindakan jahat kita. Kita jangan memenjarakan Allah dalam agama kita masing-masing hanya demi melayani keinginan dan keegoisan kita. Kita hendaknya melihat agama sebagai sarana yang mengantar kita menuju Allah, bukan sebagai tujuan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

“...SENDI PANGKAL PAHA ITU TERPELECOK...” (KEJ 32:25)

Mengapa sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging dari binatang yang menutupi sendi pangkal pahanya? Karena pada zaman dahulu, ketika Yakub (salah satu Bapa bangsa orang Israel) sendirian bermalam di Pniel (lih. Kej 32:24, 30), dia bergulat dengan seorang laki-laki utusan Tuhan (Kej 32:24). Pergulatan itu terjadi sepanjang malam. Di akhir pergulatan itu, ternyata Yakub menang. Karena melihat bahwa ia tak mampu mengalahkan Yakub, laki-laki utusan Tuhan itu memukul pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok (Kej 32:25). Keesokan harinya, Yakub pincang karena pangkal pahanya itu (Kej 32:31). “Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena DIA telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya” (Kej 32:32). SINGKATNYA, karena Yakub itu Bapa Bangsa mereka, bangsa Israel tidak makan daging dari binatang yang pangkal pahanya tertutup. Mari kita pun mencontohi para Bapa Bangsa k...

Kisah Terjadinya Tiang Garam

“Berkatalah seorang (malaikat Tuhan kepada Lot): “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di lembah Yordan, dan larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap” (Kej 19:17). “Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (Kej 19:26). Hari ini kita memperingati seorang martir di Roma. Namanya Raymundus Lullus . Kalau kerapuhan iman istri Lot hanya menyisakan tiang garam di Sodom dan Gomora, darah martir Raymundus Lullus mengokohkan tiang kejayaan kekristenan di Roma. Itulah sebabnya Roma tetap jaya. Meski kecil, tapi pernah dan akan selalu menggoncang hati dunia. Dari sanalah dunia ditata. Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima – tapi itulah kenyataanya. Semua ini tak terlepas dari banjir darah dari martir di Roma ini, seorang Kristen sejati, Raymundus Lullus. Menatap semua kejayaan itu, kita boleh bercermin. Ketika para muri...

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Dawan (Uab Meto)

(Bahasa Dawan itu Sulit, tapi Lucu dan buat kita Kangen) Kalau saja kamu tidak mengeluh sebelum selesai membaca tulisan yang agak panjang ini, kamu akan menemukan fakta menarik. Pada zaman digital ini, tidak sedikit orang yang mempunyai keinginan untuk mengenal daerah lain. Salah satu daerah yang menjadi destinasi petualangan orang zaman ini adalah Pulau Timor. Perlu disadari bahwa sebagian besar orang Timor, terutama di bagian Tengah (Kefamenanu dan Soe) sampai bagian Barat Timor (Kupang) berbahasa Dawan ( Uab Meto ). Akan tetapi, sayang sekali, tidak sedikit pengunjung yang kurang menikmati petualangan mereka karena kendala Bahasa tersebut. Padahal di tempat-tempat wisata indah yang menjadi destinasi, para petualang harus berkomunikasi dengan orang-orang asli yang hanya bisa berbahasa Dawan. Kan sayang sekali, petualangan menjadi kurang menarik. Fakta selama ini berkisah bahwa sebagian besar orang yang pernah mengunjungi Pulau Timor akan berkesimpulan bahwa Bahasa Dawan...