Pernyataan ini tidak
asing lagi bagi kita. Kita mendengarnya dalam berbagai aspek kehidupan. Kita
juga sering mengatakannya. Tampaknya, Allah menghendaki dan menentukan segala
hal dalam hidup kita. Sukses-gagal, suka-duka, dan untung-malang kita pahami
sebagai kehendak Allah.
Ketika bangsa primitif
ingin berperang, mereka selalu berdoa dan mempersembahkan korban. Mereka
meminta petunjuk dari Realitas Ilahi yang mereka sembah. Mereka ingin tahu,
apakah Realitas Ilahi menghendaki perang atau tidak. Mereka berusaha membujuk
realitas ilahi yang mereka sembah untuk menyetujui niat sekaligus memimpin
mereka dalam berperang.
Ketika pecah perang suci
(salib), perang antara agama Kristen dan Islam, terjadi hal yang
sama. Agama Islam dan Kristen berusaha memikat hati Allah supaya berpihak
kepada kelompok mereka masing-masing. Berbagai ritual suci dibuat supaya Allah
terpesona. Akhirnya, baik agama Kristen maupun Islam sampai pada pernyataan,
Allah menghendaki perang. Karena itu, perang saat itu disebut perang suci,
perang yang dikehendaki Allah.
Tampaknya perang antara
kedua agama sekaligus merupakan perang antara Allah masing-masing. Allah orang
Kristen berperang melawan Allah orang Islam. Allah, sebagai Realitas Tertinggi,
seakan-akan ada dua. Agama Kristen memiliki satu, sedangkan agama Islam pun
memiliki satu.
Pandangan semacam ini
tidak terkubur saat itu. Di tengah tantangan zaman kita ini pun, pemahaman ini
terus hidup dan tumbuh subur seolah-olah menjadi dogma-absolut masing-masing
agama. Orang Kristen tidak mau menyamakan Allah mereka dengan Allah orang
Islam, begitu pula sebaliknya dengan orang Islam. Kedua agama selalu
'mempertahankan otonomi Allah' dalam agama mereka masing-masing. Bahkan, baik
orang Islam maupun orang Kristen dengan tegas mengklaim, Allah mereka
masing-masing hanya mau menyelamatkan umat dalam agama mereka masing-masing.
Karena itu, pandangan ini mendorong baik agama Islam maupun Kristen selalu
berusaha untuk saling memengaruhi. Orang Islam berusaha meng-Islam-kan orang
Kristen, sedangkan orang Kristen berusaha meng-Kristen-kan orang
Islam. Akibatnya, pandangan ini menjadi sumber konflik antara agama Islam dan
Kristen.
Secara esensial, agama
bukan hasil perjuangan atau ciptaan manusia. Eksistensi semua agama semata-mata
merupakan anugerah Allah. Hanya karena kasih Allah, manusia dipanggil untuk
masuk dalam persekutuan hidup-Nya. Ia memanggil manusia secara pribadi, tetapi
sekaligus membentuk mereka dalam satu paguyuban untuk tinggal bersama dan
mengalami kasih setia-Nya. Karena itu, agama bukan tujuan peziarahan hidup
manusia, melainkan hanyalah sarana untuk berziarah menuju Allah.
Di sini tampak jelas,
Allah melampaui agama-agama. Sebagai sarana, fungsi agama adalah mengantar
manusia untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah. Bukan sebaliknya seperti
yang sering terjadi dalam tantangan zaman dewasa ini, agama tertentu memenjarakan
Allah dalam agamanya demi 'kejayaan' agamanya. Agama seolah-olah menjadi tujuan
peziarahan manusia, sehingga Allah dipaksa untuk masuk dalam kurungan agama.
Secara ontologis, kita
tidak mungkin memenjarakan Allah, karena Allah itu Maha Besar, Allah itu Maha
Agung. Ia melampaui segala sesuatu. Karena itu, setiap agama tidak bisa
mengklaim bahwa Allah hanya ada dalam agamanya. Jika demikian, agama tersebut
sekaligus menyatakan keterbatasan Allah, karena telah berhasil menaklukkan dan memenjarakan
Allah dalam agamanya. Dengan demikian, Allah yang dikurung itu bukan Allah
lagi, melainkan hasil proyeksi agama tersebut.
Sesungguhnya, tantangan
zaman sekarang telah memaksa nalar manusia untuk memenjarakan Allah dalam agama
yang dianutnya. Dengan berbagai doktrin dan dogma logis, manusia membatasi
Allah karena tantangan zaman menuntut. Kitab Suci yang berisi Sabda Allah
sendiri pun ditafsir seenaknya demi membenarkan tindakan. Akibatnya, setiap
tindakan penganiayan baik terhadap orang lain maupun terhadap agama tertentu
pun dianggap mulia, karena diklaim sebagai kehendak Allah. Dengan demikan,
manusia menjadikan Allah berdosa, karena dipaksa untuk memenuhi keinginan
manusia di tengah tantangan zaman ini. Allah dikurung dalam agama tertentu
untuk ikut membenci ciptaan-Nya sendiri. Padahal, Allah selalu mencintai semua
orang, tanpa membeda-bedakan agamanya.
Akhirnya, di tengah
tantangan zaman pluralitas ini, yang dituntut dari kita semua sebagai manusia
beragama adalah kita jangan menggunakan nalar untuk membenarkan
setiap tindakan jahat kita. Kita jangan memenjarakan Allah dalam agama kita
masing-masing hanya demi melayani keinginan dan keegoisan kita. Kita hendaknya
melihat agama sebagai sarana yang mengantar kita menuju Allah, bukan sebagai
tujuan.
Komentar
Posting Komentar